Bahasa dan Sastra Indonesia

Teori, Kritik, dan Sejarah Sastra

Archive for the ‘Bahasa dan Sastra Indonesia’


PROSES AKTUALISASI DIRI TOKOH AMID DALAM NOVEL LINGKAR TANAH LINGKAR AIR KARYA AHMAD TOHARI SEBUAH PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA


BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah alat penyampaian ide-ide imajinatif pengarang yang berfungsi sebagai

hiburan yang di dalamnya terdapat pesan-pesan khusus yang berguna menambah pengalaman batin pembacanya.

Sastra dan tata nilai kehidupan adalah dua fenomena sosial yang saling melengkapi dalam kedirian mereka sebagai sesuatu yang eksistensial. Sebagai bentuk seni, kelahiran karya sastra bersumber dari kehidupan yang penuh dengan tata nilai dan pada gilirannya karya sastra akan memberikan sumbangan bagi terbentuknya tata nilai.

Setiap cipta seni yang dibuat dengan kesungguhan tentu mengandung keterikatan yang kuat dengan kehidupan, karena manusia pelahir cipta seni tersebut adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Sastra sebagai produk kehidupan mengandung nilai-nilai sosial, filosofi, religi dan sebagainya.

Sastra tidak saja lahir karena fenomena-fenomena kehidupan yang lugas, tetapi juga dari kesadaran penulisnya. Sastra sebagai sesuatu yang imajinatif, fiktif dan inventif juga harus melayani misi-misi yang dapat dipertanggungjawabkan. Sastrawan ketika menciptakan karyanya tidak saja didorong oleh hasrat untuk menciptakan keindahan, tetapi juga berkehendak untuk menyampaikan pikiran-pikirannya, pendapatpendapatnya, kesan-kesannya terhadap sesuatu. Sastrawan harus (lagi…)

Kajian Unsur Psikologi Novel Olenka Karya Budi Darma dan Rencana Pembelajarannya di SMA

BAB I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sastra merupakan hasil cipta atau karya manusia yang dapat dituangkan melalui ekspresi yang berupa tulisan yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Selain itu sastra juga merupakan hasil karya seseorang yang diekspresikan melalaui tulisan yang indah, sehingga karya yang dinikmati mempunyai nilai estetis dan dapat menarik para pembaca untuk menikmatinya.
Karya-karya yang indah ini dalam sastra berupa cerpen, puisi, novel dan drama. Dalam kajian ini penulis akan membedah sebuah novel. Seperti yang diungkapkan The American College Dictonary (dalam Tarigan, 1984:164) bahwa nevel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut. Karya novel biasanya mengangkat berbagai fenomena yang terjadi dimasyarakat. Karya-karya yang menarik itu dapat mempengaruhi jiwa para pembaca sehingga dapat menyelami dan seolah-olah hadir dalam cerita tersebut.
Kedudukan sastra didalam kurikulum sekolah memang tidak berdiri secara otonom. Pengajaran sastra merupakan bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia (Mulyasa, 2004:89). Dengan demikian, kedudukan novel dalam bahan pembelajaran sastra agar siswa dapat mengikuti dan memiliki rasa peka terhadap materi yang disajikan yakni novel. Oleh karena itu, guru harus mempunyai pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang proses pembelajaran sastra agar siswa dapat mengikuti dan memiliki rasa peka terhadap materi yang disajikan yakni novel. Oleh karena itu, guru harus mempunyai pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam tentang proses pembelajaran sastra. Sebetulnya banyak cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru, agar proses pembelajaran sastra berhasil dengan baik. Misalnya, dengan menggunakan beberapa ilmu bantu dalam mengkaji sastra di Ilmu itu salah satunya psikologi yang menurut Wirawan (2000:5) psikologi disamping merupakan ilmu, juga merupakan seni karena dalam pengalamannya dalam berbagai segi kehidupan manusia, diperlukan keterampilan dan kreativitas yang tersendiri.
Penulis menganbil novel Olenka karya Budi Darma, karena penulis tertarik terhadap karakteristik tokoh dan isi cerita yang terdapat didalamnya. Budi Darma menyajikan kepada pembaca sebuah dunia kejiwaan manusia yang kelam. Didalam novel Olenka kita bertemu dengan tokoh-tokoh yang berkecamuk dengan pikiran dan pandangan-pandangan hidupnya sendiri, tidak banyak tindakan-tindakan jasmani disini, tetapi justru reaksi-reaksi kejiwaan yang lebih mewarnai kehidupan novel ini.
Dengan menggunakan kajian secara psikologi, kita berusaha memahami aspek kejiwaan serta sifat dan sikap para tokohnya dalam menjalani kehidupan yang terdapat dalam suatu cerita.

Kajian Yang Relevan
Menurut Saripin, penelitiannya mempunyai tujuan, yaitu mendapatkan gambaran unsur psikologis manusia (tokoh) dalam kumpulan cerpen Hujan Menulis Ayam karya Sutardji Calzoom Bachri dengan kriteria pemilihan bahan ajar.
Tuti Alawiyah mengemukakan tentang pendekatan psikologis muncul dalam telaah atau penelitian sastra didorong oleh cara berpikir yang menyatakan bahwa banyak hal dalam kehidupan umat manusia dapat dikaji dengan teori-teori psikologis. Pendekatan ini juga muncul karena ada asumsi bahwa ada kaitan antara proses penciptaan karya sastra dengan kejiwaan pengarang atau penulisnya.
Selanjutnya menurut Adi, pendekatan psikologis itu selalu berhubungan dengan sikap, sifat dan tingkah laku manusia, serta berkaitan dengan aspek perwatakan dalam suatu cerita sebagai gambaran kreatif tokoh-tokoh yang hadir di depan pembaca seperti sesungguhnya.

Fokus Penelitian
Fokus penelitian adalah penentuan keleluasaan (scope) permasalahan dan batas penelitian (Margono, 2003: 40). Fokus penelitian dilakukan agar penelitian tidak keluar dari rencana yang ditetapkan sebelumnya sehingga penelitian akan terfokus pada masalah pokok yang telah ditentukan.
Fokus penelitian ini adalah kajian tentang unsur psikologis tokoh dalam novel Olenka karya Budi Darma.

Pertanyaan Penelitian
Setelah adanya fokus penelitian terhadap masalah-masalah penelitian, maka perlu dibuat beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan variabel-variabel judul penelitian. Pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah karakter atau perwatakan tokoh-tokoh dalam novel Olenka karya Budi Darma dikaji dengan pendekatan psikologis?
2. Apakah rencana pembelajaran apresiasi sastra di SMA dapat disusun dengan menggunakan novel Olenka karya Budi Darma sebagai bahan pembelajaran?

Tujuan Penelitian
Melalui penelitian ini, tujuan yang hendak dicapai adalah:
1. Untuk memperoleh deskripsi karakter atau perwatakan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Olenka karya Budi Darma
2. Menyusun rencana pembelajaran apresiasi di SMA dengan menggunakan novel Olenka karya Budi Darma

BAB II. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Apresiasi Sastra
Menurut Effendi (Suroto, 1989: 158), apresiasi adalah upaya atau proses menikmati, memahami dan menghargai suatu karya sastra secara kritis, sehingga menumbuhkan pengertianm penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra.
Tarigan (1984: 233) mengatakan bahwa apresiasi sastra adalah penafsiran kualitas karya sastra pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang jelas, sadar serta kritis.
Selanjutnya Rusyana (1984: 322) bahwa apresiasi sastra adalah sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra, dan kegairahan kepadanya, serta kenikmatan yang timbul sebagai berikut dari semuai itu.

2. Pengertian Novel
Dalam The American College Dictionary (Tarigan, 1984: 164) bahwa novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta dengan adegan nyata representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang kacau atau kusut.
Pengertian novel dalam pandangan H.B. Jassin (1977: 64) menyebutkan bahwa Novel sebagai karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang.
Sumardjo dan Saini (1997:29) istilah novel sama dengan istilah roman, kata novel berasal dari bahasa Italia dan bertembang di Inggris dan Amerika Serikat. Roman dan novel mempunyai perbedaan yakni bentuk novel lebih pendek dibanding dengan roman, tetapi ukuran luasnya unsur cerita hampir sama.
Dalam bahasa Jerman istilah novel yaitu novelle, dan secara harafiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita yang pendek dalam bentuk prosa (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2000:9).
- Unsur-unsur Intrinsik
1. Tema
Menurut Scharbach (Aminuddin, 2000:91) bahwa istilah tema berasal dari bahasa latin yang berarti tempat meletakkan suatu perangkat. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya.
Menurut Nurgiyantoro (2000:70), tema dapat dipandang sebagai dasar cerita, gagasan dasar umum, sebuah karya novel. Gagasan dasar umum inilah yang tentunya telah ditentukan sebelumnya oleh pengarang yang diperlukan untuk mengembangkan sebuah cerita.
Selanjutnya Nardjo dan Saini (1997:56) memandang bahwa tema adalah sebuah ide cerita. Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita, melainkan mau mengatakan sesuatu pada pembacanya.
2. Alur atau plot
Menurut Stanton (Nurgiyantoro, 2000:113) mengemukakan bahwa alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara segala akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Aminuddin (2000:83) mengutarakan bahwa plot atau alur adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita.
3. Penokohan
Menurut Nurgiyantoro (2000:1164), istilah-istilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi. Istilah tersebut merupakan istilah yang sama yang dipergunakan dalam penokohan. Istilah tokoh merajuk pada orangnya, dan pelaku cerita.
Penokohan menurut Jones (Nurgiyantoro, 2000: 165) adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.

4. Latar atau Setting
Latar atau setting menyangkut tempat, waktu, dan situasi yang mendukung dalam suatu cerita. Menurut Abrams (Nurgiyantoro, 2000: 216) latar atau setting adalah landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
5. Sudut Pandang atau Point of View
Sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Menurut Wiyanto (2005:83) mengemukakan sudut pandang adalah posisi pencerita (pengarang) terhadap kisah yang diceritakannya.
Menurut Aminudin (2000:90) titik pandang adalah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkannya.
6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan (Wiyanto, 2005:84). Cara khas itu dapat berupa kalimat-kalimat yang dihasilkannya, menjadi hidup.
Istilah gaya menurut Aminuddin (2000:72) diangkat dari istilah style yang berasal dari bahasa latih stillus dan mengandung arti leksikal alat untuk menulis. Gaya mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.

3.Pengertian Psikologis
Menurut Gleitman (Syah, 2000:8) psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami perilaku manusia, alasan dan cara mereka melakukan sesuatu dan juga memahami bagaimana makhluk tersebut berpikir dan berperasaan.
Gorden Murphu (Wirawan, 2000:4) berpendapat psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Menurut Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 2000:9) psikologi sebagai cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa.

4. Pendekatan Psikologi
Pendekatan psikologi adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia. Manusia senantiasa memperhatikan perilaku yang beragam. Bila ingin melihat dan mengenal manusia lebih dalam dan lebih jauh diperlukan psikologi. Di zaman kemajuan teknologi seperti sekarang ini manusia mengalami konflik kejiwaan yang bemula dari sikap kejiwaan tertentu bermuara pula ke permasalahan kejiwaan (Semi, 1990:76).
Pendekatan psikologi sastra ternyata memiliki beberapa manfaat dan keunggulan, seperti diungkapkan Semi (1990:80), sebagai berikut: (1) sangat sesuai untuk mengkaji secara mendalam aspek perwatakan, (2) dengan pendekatan ini dapat memberi umpan balik kepada penulis tentang masalah perwatakan yang dikembangkannya, dan (3) sangat membantu dalam menganalisis karya sastra Surrealis, abstrak, atau absurd dan akhirnya dapat membantu pembaca memahami karya-karya semacam itu.
Selanjutnya, menurut Aminuddin (2004:55) dan Semi (1988:66), pendekatan psikologi sastra juga dapat dimanfaatkan untuk beberapa hal. Pertama, untuk memahami aspek kejiwaan pengarang dalam kaitannya dengan proses kreatif karya sastra yang dihadirkannya. Kedua, untuk mengeksplorasi segi-segi pemikiran dan kejiwaan tokoh-tokoh utama cerita, terutam menyangkut alam pikiran bawah sadar.

5. Kedudukan Novel dalam Pembelajaran Sastra Berdasarkan KTSP
1. Tujuan Pemelajaran Sastra
Pembelajaran sastra pada dasarnya bertujuan agar siswa mimiliki rasa peka terhadap karya sastra yang berharga sehinga merasa terdorong dan tertarik untuk membacanya (Semi, 1990:152). Dengan membaca karya sastra diharapkan para siswa memperoleh pengertian yang baik tentang manusia dan kemanusiaan, mengenai nilai-nilai dan mendapatkan ide-ide baru. Pemelajaran sastra yakni novel sebagai genre serta mempunyai fungsi yang dapat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap karya-karya yang dihasilkan oleh para pengarang.
Novel memungkinkan seorang siswa dengan kemampuan membacanya, hanyut dalam keasyikan (Rahmantoro, 1988:65). Novel-novel ini jelas dapat membantu dan menunjang sebagai sarana pendukung untuk memperkaya bacaan para siswa disamping novel-novel tertentu yang dijadikan bahan pembelajaran oleh guru sastra.
Adanya novel dalam KBK membuka pencerahan baru agar siswa dapat lebih aktif dan konstruktif terhadap gejala atau situasi yang terjadi saat ini.

2. Ruang Lingkup Pemelajaran Sastra
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA dan MA terdiri atas dua aspek, yaitu aspek kemampuan berbahasa dan bersastra. Masing-masing terdiri atas sub aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
1. Mendengarkan
Mendengarkan, memahami, dan mengapresiasikan ragam karya sastra (puisi, prosa, drama) baik karya asli maupun saduran/terjemahan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
2. Berbicara
Membahas dan mendiskusikan ragam karya sastra di atas sesuai dengan isi dan konteks lingkungan dan budaya.
3. Membaca
Membaca dan memahami berbagai jenis dan ragam karya sastra serta mampu melakukan apresiasi secara tepat.
4. Menulis
Mengapresiasikan karya sastra yang diminati (puisi, prosa, drama) dalam bentuk karya tulis yang kreatif, serta dapat menulis kritik dan esai sastra berdasarkan ragam sastra yang sudah dibaca.

BAB III. Metode dan Teknik Penelitian
1. Metode Penelitian
Penelitian ini memerlukan suatu metode agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Surakhmad (1998:131) mengungkapkan bahwa metode merupakan cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, cara utama tersebut disesuaikan dengan situasi penelitian.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif ialah metode yang menuturkan dan memecahkan masalah yang ada, melalui suatu cara mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasikan, menganalisis dan menginterprestasikan.

2. Teknik Penelitian
1. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka. Teknik studi pustaka adalah beroleh keterangan teoritis yang berkaitan dengan masalah penelitian baik dari buku-buku, surat kabar, majalah, buletin, dan bahan-bahan lainnya yang menunjang dalam bekal penelitian.
2. Teknik pengolahan (analisis) data
Teknik ini digunakan untuk mengolah atau menganalisis data melalui kajian atau telaah pustaka. Dengan menggunakan teknik ini, masalah tokoh, dan penokohan perwatakan pada novel Olenka karya Budi Darma dapat dipaparkan atau dideskripsikan berdasarkan teori-teori yang berkaitan dengan masalah penelitian tersebut.

Sumber Data Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (1997:107) yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.
Adapun sumber data pada penelitian ini adalah novel Olenka karya Budi Darma,
terbitan Balai Pustaka, Jakarta, cetakan keempat, tahun 1992,dengan tebal buku 232

halaman,serta buku-buku pustaka lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian.

Daftar Pustaka
Aminuddin 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional.2003.Kurikulum 2004.Jakarta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Rahmanto. B. 1988. Metode Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Kanisius
Semi, Atar. 1990. Metode Penelitian Sastra. Padang : Angkasa.
Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Erlangga
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
Wirawan, Sarwono Sarlito. 2000. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintan.

Kerangka Penelitian
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
2. Kajian Yang Relevan
3. Fokus Penelitian
4. Pertanyaan Penelitian
5. Tujuan Penelitian
6. Definisi Istilah
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Apresiasi Sastra
2.2 Pengertian Novel
2.3 Unsur-unsur Intrinsik Novel
2.4 Pengertian Psikologi
2.4.1 Definisi Psikologis Secara Umum
2.4.2 Pendekatan Psikologi
2.4.3 Keunggulan Pendekatan Psikologi
2.4.4 Konsep dan Kriteria
2.4.5 Metode dalam Menggunakan Pendekatan Psikologi
2.5 Kriteria Memilih Bahan Ajar
2.5.1 Tujuan Pembelajaran Kurikulum Berbasis Kompetensi
2.5.2 Ruang Lingkup Pembelajaran
2.5.3 Silabus

BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
1. Metode dan Teknik Penelitian
1. Metode Penelitian
2. Teknik Penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
2. Teknik Pengolahan Data
2. Sumber Data Penelitian
BAB 4
PEMBAHASAN TERHADAP UNSUR PSIKOLOGI NOVEL OLENKA KARYA BUDI DARMA DAN RENCANA PEMELAJARAN SASTRA DI SMA
4.1 Kajian Unsur Psikologis Tokoh Novel Olenka Karya Budi Darma
4.2 Aplikasi novel Olenka Karya Budi Darma sebagai upaya memilih bahan pembelajaran sastra di SMA

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BIOGRAFI PENULIS
LAMPIRAN-LAMPIRAN

Konflik Dalam Naskah Drama DAG DIG DUG Karya Putu Wijaya

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Naskah drama adalah salah satu genre karya sastra yang sejajar dengan prosa dan puisi.
Berbeda dengan prosa maupun puisi, naskah drama memiliki bentuk sendiri yaitu ditulis
dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan
dipentaskan (Waluyo, 2003: 2). Menurut Dietrich (1953:4) drama adalah cerita konflik
manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan
action pada pentas di hadapan penonton (audience).

Dalam sebuah penelitian pada tahun 1979 yang dilakukan di sekolah-sekolah oleh Dr. Yus
Rusyana (dalam Waluyo, 2003:1), disimpulkan bahwa minat siswa dalam membaca karya
sastra yang terbanyak adalah prosa, kemudian puisi, baru selanjutnya drama.
Perbandingannya adalah: (6:3:1), terbukti bahwa naskah drama paling tidak diminati. Hal
tersebut dimungkinkan karena menghayati naskah drama yang berupa dialog itu
membutuhkan perhatian lebih.

Menurut Tambajong (1981:23) naskah drama segi-segi yang harus diperhatikan banyak
(1)
sekali, mulai dari menata hubungan yang luas antara pengarang dengan kehidupan,
pengarang dengan naskah, naskah dengan aktor, naskah dengan sutradara, pengarang dengan
aktor, pengarang dengan sutradara, naskah dengan kemungkinan dipentaskan, aktor dengan
aktor, aktor dengan penonton, naskah dengan penonton dan seterusnya.

Dipilihnya penelitian tentang konflik dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya
adalah karena empat hal, antara lain:
Pertama, kedudukan Putu Wijaya dalam drama kontemporer Indonesia. Abdullah (1985:65)
menyebutkan bahwa sejak tahun 1976 dalam hal kepeloporan drama, Arifin C. Noer
menduduki posisi pertama, namun dari segi ketahanan hingga saat ini Putu Wijaya
menduduki posisinya yang utama. Hal ini terbukti dari prestasi Putu Wijaya dalam dunia
drama sejak tahun 1970-an hingga 2000-an masih saja ada. Pada tahun 2004 naskah Putu
Wijaya yang berjudul Rat (War) di pentaskan selama 10 hari berturut-turut oleh kelompok
teater dari Kota Belgrado, Yugoslavia, Putu Wijaya diundang untuk menonton langsung di
gedung Ateleje 212 (Suara Merdeka, 28 Juli 2004). Di tahun yang sama Putu Wijaya
mementaskan naskah Zoom berkeliling ke Tokyo, Kyoto, dan Hongkong (Suara Merdeka,
21 Mei 2004). Putu Wijaya mendirikan Teater Mandiri (1971-sekarang) sebagai sutradara,
penulis naskah, dan pemain. Sebagai sutradara, Putu Wijaya berpendapat bahwa ia dituntut
(2)
untuk berekspresi, karena naskah kadang-kadang tidak menyediakan plot, tema, karakter,
dan patokan-patokan yang pasti. Naskah hanyalah bahan mentah yang penuh kemungkinan,
yang bisa kaya luar biasa kalau sang sutradara juga seorang yang kaya, tetapi serentak bisa
menjadi miskin dan serba kurang kalau sutradara berkepala kosong (Abdullah, 1985:7).
Sebagai penulis naskah, di tahun 1973-1974 Putu Wijaya pernah memenangkan berturut-
turut juara pertama dan kedua dalam Sayembara Penulisan Naskah Lakon yang diadakan
oleh DKJ. Masing-masing lakon yang dimenangkan adalah Aduh, Dag Dig Dug, dan Anu.
Sejak saat itu karya-karya drama Putu Wijaya seakan-akan menjadi ukuran bagi mereka yang
akan menulis naskah drama kontemporer. Ciri khas karyanya yaitu cenderung menggunakan
gaya atau metode obyektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam
pengungkapannya. Maksudnya, cara mendekati tokoh, Putu seperti tidak pernah
menyentuhnya. Seolah-olah tokoh dibiarkan bergerak dengan tindakan dan pikiran-
pikirannya, tak ubahnya seperti orang yang mengamati gerak-gerik ikan di dalam akuarium
(Abdullah, 1985:9). Menurut Sumardjo (dalam Atmaja, 1987:9), ide yang mendasari
perubahan karya-karya Putu Wijaya adalah konsep psikoanalisis dan absurdisme. Putu
Wijaya sendiri mengaku bahwa konsep kepengarangannya adalah teror mental, usaha
untuk memberikan pencerahan dengan kejutan, dengan pematahan atau pembalikan yang
tiba-tiba (Wijaya, 2003:213). Sebagai pemain, Putu Wijaya sejak tahun 1991 bersama Teater
(3)
Mandiri memainkan pertunjukkan tidak lagi menggunakan dialog tetapi gerak, bunyi dan
seni rupa (Wijaya, 2003:218).

Kedua, kelebihan naskah drama Dag Dig Dug dibanding dengan naskah-naskah drama Putu
Wijaya yang lain. Naskah-naskah drama Putu Wijaya biasa berdurasi antara 90 sampai 120
menit. Tak pernah lebih panjang dari itu, kecuali Dag Dig Dug. Teater Mandiri sampai
sekarang belum pernah memainkan naskah itu (Wijaya, 2003:218). Lakon Dag Dig Dug
tidak pernah dimainkan, karena Putu Wijaya tidak punya aktor kuat di dalam kelompok
teaternya (Teater Mandiri). Naskah tersebut memerlukan minimal dua pemain yang hebat,
agar mampu mengangkat peristiwanya (Email: Wijaya, 2005).

Ketiga, konflik sebagai dasar drama dalam naskah Dag Dig Dug memiliki peranan yang
sangat kuat. Dengan asumsi bahwa naskah drama Dag Dig Dug berdurasi lebih dari 120
menit namun tokoh utama sebenarnya hanyalah terdiri dari dua tokoh (Suami dan Istri).
Diperlukan jalinan antarkonflik yang jeli dan penciptaan konflik-konflik yang kuat dalam
merangkai alur agar mampu membangun suasana pementasan Dag Dig Dug, agar penonton
tidak merasa bosan dan meninggalkan gedung pertunjukkan, sebab dalam penulisan naskah
drama diperhitungkan keterlibatan penonton dalam naskah drama tersebut, karena itu hampir
(4)
pada tiap adegan naskah drama Dag Dig Dug terjadi konflik berupa pertengkaran antara
tokoh Suami dan tokoh Istri.

Keempat, dalam penelitian-penelitian karya sastra sebelumnya, penelitian tentang naskah
drama terbilang sedikit jika dibandingkan dengan penelitian tentang prosa dan puisi,
khususnya penelitian yang membahas secara lebih dalam tentang konflik dalam naskah
drama. Penelitian-penelitian tentang naskah drama sebelumnya antara lain adalah: potensi
dramatik dalam naskah drama, ciri atavisme dalam naskah drama, dan hubungan tema dalam
naskah drama.

1.2 Batasan Masalah
Drama merupakan sebuah karya sastra atau sebuah komposisi yang melukiskan kehidupan
dan perilaku manusia dalam bentuk dialog untuk dipentaskan. Sementara kaidah dasar drama
sebagai karya sastra sebagai berikut: (1) dasar drama adalah koflik atau pertentangan antara
tokoh/unsur lain yang memiliki kekuatan, konflik tersebut akan mewarnai setiap bagian
yang ada dalam sebuah cerita drama, (2) dasar dari konflik adalah motif, motif adalah alasan
dan penyebab munculnya konflik terjadi, (3) apa yang menggerakkan konflik, bagaimana konflik bergerak, dan bagaimana efek-efek dari konflik bergantung pada jenis dan fungsi setiap unit motivasional, (4) Petunjuk mengenai teknik dan maksud penulis naskah dapat
(5)
selalu ditemukan dengan menganalisis unit motivasional, (5) setiap unit motivasional dipengaruhi oleh unit yang hadir sebelumnya dan sesudahnya, (6) menafsirkan satu unit ias mempengaruhi makna keseluruhan permainan, (7) jika sejak awal unit motivasional ditafsirkan dengan jelas, hasil dari tafsiran ini akan mempengaruhi permainan secara keseluruhan.
Pembahasan mengenai konflik dalam naskah drama adalah: (1) mengidentifikasi jenis unit motivasional sebagai indikasi sebab munculnya konflik, (2) mengidentifikasi fungsi unit motivasional sebagai indikasi bergeraknya dan efek dari konflik, (3) mengidentifikasi hubungan antarunit motivasional untuk mendapatkan kandungan makna dan maksud pengarang yang mengacu pada permasalahan kemanusian yang bersumber pada tabiat kehidupan manusia (konflik).
Dari beberapa uraian tersebut, peneliti akan membatasi masalah yang akan diteliti. Penelitian ini akan membahas tentang konflik sebagai dasar atau esensi dalam sebuah naskah drama, melalui analisis unit motivasional, karena motif merupakan dasar dari konflik.

1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
a. Apa saja unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya?
b. Apa saja fungsi unit konflik dan unit pendukung konflik dalam setiap adegan yang terdapat dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya?
c. Bagaimana hubungan antara unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya dalam membangun plot?
(6)
1.4 Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang konflik yang
terdapat dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya. Sedangkan secara khusus,
penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang:
a. unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskah drama Dag Dig
Dug karya Putu Wijaya,
b. fungsi unit konflik dan unit pendukung konflik dalam setiap adegan yang terdapat
dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya, dan
c. hubungan antara unit konflik dan unit pendukung konflik yang terdapat dalam naskah
drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya dalam membangun plot.

1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Hasil penelitian tentang konflik dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya
diharapkan bisa memperkaya dan menambah wawasan bagi pengembangan ilmu dalam
bidang sastra terutama naskah drama

(7)
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
a. Pemerhati drama
Sebagai salah satu rujukan mengenai bagaimana teknik membedah naskah drama untuk
menafsirkan maksud pengarang, agar menghasilkan pementasan yang maksimal.
b. Pengajaran drama
Penelitian ini dapat menambah wawasan dalam bidang studi bahasa dan sastra Indonesia
dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pilihan tambahan dalam pengajaran drama.

c. Peneliti selanjutnya
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu dasar atau pedoman untuk mengkaji
lebih lanjut naskah drama yang diteliti khusunya tentang konflik.
1.6 Definisi Operasional
a.Drama
Drama adalah cerita tentang konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan
dengan menggunakan percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton
(Dietrich,1953:3).

(8)
b. Konflik
Konflik adalah dasar drama berupa pertentangan yang dialami tokoh sebagai respon atas
timbulnya kekuatan-kekuatan dramatis (Dietrich, 1953:78)

d. Adegan
Adegan secara struktur adalah unit aksi atas sasaran tokoh, sebuah adegan menyatukan
beberapa sasaran dalam beberapa macam serangan (attack) secara utuh (Gallaway,
1953:104).

d. Unit Motivasional
Bagian terkecil integral yang melengkapi adegan dalam drama (Dietrich, 1953:71).

(9)
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Drama
2.1.1 Pengertian Drama
Kata drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Drama berarti perbuatan, tindakan atau action (Harymawan, 1988:1). Menurut Aristoteles, drama adalah tiruan (imitasi) dari action (Dietrich, 1953:3). Ada beberapa pengertian yang dirumuskan oleh banyak ahli di bidang drama: Menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Menurut Brander Mathews, konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action. Menurut Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Menurut Dietrich, drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton (audience).
Drama adalah cerita tentang konflik manusia, kita tidak bisa memahami sampai kita tahu kapan, mengapa, dan bagaimana konflik manusia. Drama adalah cerita dalam bentuk dialog, drama tak lebih dari interpretasi kehidupan, drama adalah salah satu bentuk kesenian. Drama dirancang untuk penonton, drama bergantung pada komunikasi. Jika drama tidak komunikatif, maksud pengarang, pembangun respon emosional tidak akan sampai (Dietrich, 1953:4).
Mempelajari naskah drama dapat dilakukan dengan cara mempelajari dengan seksama kata-kata, ungkapan, kalimat atau pernyataan tertentu yang dipergunakan oleh pengarang dalam naskah drama yang ditulisnya. Memang penonton mungkin tidak pernah membaca sendiri dialog dalam naskah. Mereka mendengarkan dialog diucapkan oleh aktor di panggung (Ghazali, 2001:2)
Berdasarkan beberapa teori tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa drama adalah sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh berisi konflik manusia. Drama sebagai karya sastra dapat dibedakan menurut dua penggolongan mendasar yaitu drama sebagai
(10)
sastra lisan dan drama sebagai karya tulis. Sebagai sastra lisan drama adalah teater, sedang drama sebagai karya tulis adalah peranan naskah terhadap komunikasi drama itu sendiri. Dalam hal ini lebih ditekankan aspek pembaca drama daripada penonton, dan merubah pendekatan yang berorientasi kepada aktor ke pendekatan yang berorientasi terhadap naskah.

2.1.2 Bahan Penulisan Drama
2.1.2.1 Tokoh
Drama dibangun dari konflik, karakter manusia adalah bahan dasarnya. Drama adalah cerita tentang tokoh manusia dalam konflik. Pertunjukan yang dramatis harus menggambarkan kehidupan dari tokoh-tokohnya (Dietrich, 1953:25). Tidak ada drama tanpa pelaku, bagaimanapun bentuk dan jenis drama tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam karya sastra selalu diemban atau terjadi atas diri tokoh-tokoh tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita, sehingga peristiwa tersebut mampu menjalin suatu cerita yang padu disebut tokoh (Maryaeni, 1992:39). Inti sebuah naskah drama terletak pada hadirnya keinginan seorang tokoh dan ia berjuang keras untuk mencapainya. Hidup bagi tokoh itu akan terasa tidak bermakna jika tujuan atau cita-cita yang ingin dicapainya itu kandas di perjalanan. Berbagai cara dia lakukan untuk memperoleh keinginan atau tujuan hidupnya (Ghazali, 2001:10).
Dengan demikian berdasarkan beberapa pengertian diatas, untuk menganalisis tokoh dan hadirnya pola motivasional tokoh dapat dilakukan melalui pemahaman dialog dan tingkah laku atau perbuatan tokoh yang hadir dalam drama.

2.1.2.2 Situasi/Latar
Jika situasi adalah dasar dari gerak kehidupan, begitu pula dalam drama. Setiap lakon adalah
(11)
rentetan situasi, dimulai dari situasi yang berubah dan berkembang selama action terlaksana. Bahannya bersumber pada kehidupan, sedangkan drama adalah penggarapan bahan tersebut (Dietrich, 1953:25). Latar adalah lingkungan tempat untuk mengekspresikan diri tokoh, dan tempat terjadinya peristiwa. Latar dapat berfungsi sebagai metominia atau metafora yaitu sebagai ekspresi dari tokoh-tokoh yang ada (Wellek & Warren, 1990:291). Menurut Aminuddin (1986:136) fungsi latar adalah: (1) fungsi fisikal, memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya sehingga sebuah cerita menjadi logis, (2) fungsi psikologis, sebagai keadaan batin para tokoh atau menjadi metafor dari keadaan emosional dan spiritual tokoh, bila later tersebut mampu menuansakan makna tertentu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan macamnya latar dibagi atas latar fisik dan latas sosial. Sedang secara fungsional latar dapat dibedakan menjadi latar fisik dan latar psikologis.

2.1.2.3 Tema/Topik
Topik atau tema adalah ide pokok dari lakon atau drama. Tema mungkin adalah maksud dan keinginan pengarang, mungkin sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi, atau bisa jadi imajinasi pengarang berdasarkan latar belakang dan pengalaman hidupnya (Dietrich, 1953:25). Dalam drama istilah tema sering disebut dengan istilah premise, yang berperan sebagai landasan pengembangan pola bangun cerita (Harymawan, 1988:24). Tema merupakan pokok pikiran atau sesuatu yang melandasi suatu karya sastra diciptakan. Tema merupakan sesuatu yang paling hakiki dalam setiap karya sastra meskipun tidak meninggalkan dan mengesampingkan unsur lainnya (Maryaeni, 1992:32).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penulis mengembangkan ceritanya didasari oleh pemahaman sebuah tema. Namun sebaliknya seorang pembaca untuk memahami sebuah tema harus lebih dulu memahami unsur-unsur signifikan naskah yang menjadi media pemapar tema.
(12)
2.2 Konflik
2.2.1 Pengertian Konflik
Pertentangan yang menjadi esensi drama disebut dengan istilah konflik (Mark, 1985:41). Konflik adalah dasar drama berupa pertentangan yang dialami tokoh sebagai respon atas timbulnya kekuatan-kekuatan dramatis (konflik bisa berupa pertengkaran antartokoh, pertengkaran tokoh dengan dirinya sendiri, dengan ide atau dengan lingkungan) (Dietrich, 1953:78). Ferdinand Brunetieve di akhir abad ke-19 menyebutkan bahwa drama harus mewujudkan pernyataan kekuatan manusia yang saling beroposisi. Secara teknis disebut kisah dari protagonis yang menginginkan sesuatu dan antagonis yang menentang dipenuhinya keinginan tersebut. Pertentangan itu mengakibatkan apa yang disebut dramatic action (Dietrich, 1953:7).
Konflik merupakan esensi drama. Dengan demikian, drama pada dasarnya merupakan pencerminan kehidupan di masyarakat yang berisi tentang pertentangan-pertentangan baik fisik maupun psikis. Pertentangan-pertentangan tersebut saling membentur sehingga membentuk rangkaian peristiwa yang menjadi padu dalam lakon tersebut. Pengarang menciptakan bermacam-macam konflik bagi tokoh ceritanya, sebab dengan konflik itu pulahlah cerita digerakkan. Konflik dapat menggerakkan cerita menuju komplikasi, dan semakin banyak dan rumit konflik disediakan oleh pengarang, tentu semakin tinggi pula ketegangan yang dihasilkan (Ghazali, 2001:13). Dengan dimulainya suatu konflik, mulai pulalah lakon tersebut (Maryaeni, 1992:46). Drama yang baik biasanya konfliknya selalu terkait dengan tema dan alur, maksudnya adalah temanya selalu terjalin di dalam alur yang kuat, dan alurnya selalu dapat menarik perhatian karena tersusun dari jalinan konflik-konflik yang matang dan terarah serta tersebar secara merata dalam setiap bagian-bagian alur tersebut (Mark, 1985:83). Pengertian konflik juga meliputi pula pertentangan-pertentangan antara unsur-unsur lain yang turut membangun alur, konflik adalah bagian alur yang mengungkapkan pertentangan antara tokoh dan unsur-unsur (Siregar, 1985:32).
Dengan demikian yang dimaksud konflik dalam naskah drama, adalah satu komplikasi yang
(13)
bergerak pada satu klimaks atau bagian alur yang menggambarkan pertentangan-pertentangan yang dialami tokoh, maupun pertentangan-pertentangan yang terjadi di luar tokoh yang dimaksudkan sebagai penggambaran yang diberikan oleh pengarang agar pembaca menduga-duga perkembangan cerita selanjutnya.

2.2.2 Kedudukan dan Fungsi Konflik
Konflik bagi drama merupakan bagian yang amat penting. Hal dasar yang harus ada dalam drama, konflik berfungsi sebagai penyebab munculnya situasi dramatik yang menggerakkan cerita. Situasi satu dengan situasi berikutnya merupakan cerita yang berkaitan, berhenti sebentar untuk pengenalan pelaku, intermeso, persiapan situasi berikutnya, demikian seterusnya, hingga terbentuk sebuah alur utama yang tidak terputus (Mark, 1985:43). Konflik diwujudkan dengan action. Drama memerlukan action terbuka karena penonton dapat menerima makna berdasarkan action yang didengar dan dilihat. Apabila terjadi pertentangan dan perjuangan batin, harus diperlihatkan dengan action (Dietrich, 1953:8).
Konflik juga berfungsi sebagai penyampai tema. Ada hubungan langsung antara tema dan alur dalam drama. Alur yang digariskan haruslah menjabarkan tema. Alur terbentuk dari rangkaian situasi dramatik yang terjadi karena adanya konflik. Situasi-situasi tersebut selanjutnya akan membentuk konflik-konflik yang lebih besar. Konflik-konflik yang lebih besar itulah yang disebut tema (Mark, 1985:43).
Dari beberapa penjelasan tersebut jelaslah bahwa konflik di dalam drama berkedudukan sebagai unsur dasar cerita serta berfungsi antara lain sebagai unsur yang memiliki peranan utama dalam menghidupkan peristiwa-peristiwa yang membentuk alur, serta secara umum berfungsi pula sebagai penyampai tema.

(14)

2.2.3 Motif Sebagai Dasar Konflik
Konflik yang berasal dari tingkah laku tokoh di dalam drama pada mulanya didorong oleh motif-motif tertentu. Motif adalah jumlah total kekuatan dinamis yang menyebabkan respon manusia. Motif adalah dasar dari action, yang penting dari action sendiri adalah alasan untuk ber-action. Penonton harus memahami mengapa? sebuah alasan atau motivasi dibalik action (Dietrich, 1953:10). Menurut Gallaway (1953:106) dengan menganalisis adegan berarti menganalisis tokoh dan motif tiap tokoh dalam adegan, karena aktor harus bergerak sesuai dengan motif.
Motif bisa muncul dari beberapa sebab: dorongan dasar manusia (dorongan untuk direspon, dorongan untuk diakui, dorongan untuk berpetualang, dorongan untuk mendapatkan keamaan), situasi fisik dan situasi sosial, interaksi sosial, dan karakter kompleks (kesehatan badan, intelektual, emosional, ekspresif, budaya). Pembahasan yang mendalam mengenai motif yang mendasari tingkah laku tokoh sebenarnya berhubungan erat dengan kajian ilmu psikologi. Karena membicarakan motif yang mendorong munculnya tingkah laku tokoh berhubungan erat dengan pembahasan keadaan jiwa atau psikologi tokoh. Dengan menyadari hal itu dalam penelitian ini, pembahasan motif sebagai dasar konflik pada bagian ini lebih ditujukan untuk mengetahui sumber-sumber serta penggolongan motif yang berlaku dalam drama, daripada pembahasan keadaan kejiwaan atau psikologi.

2.3 Unit Motivasional
2.3.1 Pengertian Unit Motivasional
Unit motivasional didefinisikan sebagai bagian terkecil integral yang melengkapi adegan dalam lakon/drama, yang mana pola motivasional tetap tak berubah. Biasanya dasar komponen adegan seperti karakter, suasana, dan tema tak berubah pada satu unit (Dietrich, 1953:71). Gallaway (1953:104) mendefinisikan adegan sebagai unit dinamis artinya urutan rangkaian pokok sebuah sasaran tertentu terhadap karakter tertentu. Secara terstruktur, setiap adegan adalah
(15)
unit action atas sasaran tokoh. Menurut Gallaway menentukan motif bisa mengantarkan permainan dari ketegangan demi ketegangan menuju krisis utama dan klimaks. Dengan mengkarakterisasi tokoh, adegan bisa dibagi dalam unit-unit. Setiap unit mengejar objektif (sasaran) tertentu.
Salah satu pembeda antara drama dengan karya sastra prosa dan puisi adalah teknik analisis unit motivasional dalam drama. Petunjuk mengenai teknik dan maksud penulis naskah dapat selalu ditemukan dengan menganalisis unit motivasional. Apa yang menggerakkan konflik, bagaimana konflik bergerak dan berkembang, dan apa efek-efek dari konflik bergantung pada jenis dan fungsi setiap unit motivasional

2.3.2 Sifat Khas Unit Motivasional
2.3.2.1 Pergantian Tokoh
Biasanya penambahan atau pengurangan satu tokoh dalam adegan drama akan mengubah pola motivasional termasuk didalamnya unit. Perubahan hadirnya atau keluarnya tokoh biasanya diiringi dengan perubahan mood dan dimulainya unit yang lain (Dietrich, 1953:75).
Contoh hadirnya tokoh yang merubah unit dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada perubahan dari unit 28 ke unit 29 (babak III, adegan II) sebagai berikut:
Babak III, Adegan II, Unit 28:
Waktu lewat.
Masih tetap Cokro. Cokro sedang mendengarkan radio. Ada siaran dagelan dagelan ini benar-benar lucu dan jelas kedengaran Cokro tertawa terbahak-bahak mendengarkannya. Ia duduk mencangkung lututnya di lantai sambil memegang sapu, kebut dan alat pelnya. Ketawanya lepas meledak-ledak.
(16)
Kemudian kedengaran suara memanggil-manggil dari luar pagar.

Babak III, Adegan II, Unit 29:
267
268 SUAMI
ISTRI :
: (berseru) Krooooo! Cokrooooooooooo!!!!!
(berseru) Krooooooo! Cokrooooooooooo!!!!!
Mereka berseru berganti-ganti. Cokro masih asik mendengarkan. Waktu seruan itu bertambah keras disertai dengan pukulan pada pagar, Cokro baru mendengarnya. Cepat-cepat ia mematikan radio membereskan segala sesuatu dan lari ke depan sambil membawa sapu.
269 COKRO : Yaaaaaaa!!!!! Bangsat!
Paparan dialog diatas menunjukkan suasana yang santai ketika Cokro tertawa mendengarkan dagelan dari radio (unit 28), suasana tersebut berubah ketika hadir suara tokoh Suami dan Istri (unit 29). Disini hadirnya tokoh diiringi oleh perubahan pola motivasional yang membuat terbentuknya unit baru.

2.3.2.2 Pergantian Suasana (Mood)
Sangat jelas bahwa perubahan situasi dan pergantian ruang dan waktu, akan merubah keadaan baru dengan pola kekuatan motivasional. Misalnya suara telepon mengganggu adegan, pesan dan merubah makna, mood, tema dalam action. Dalam kasus seperti itu, unit motivasional akan terbentuk meskipun karakter dalam adegan tidak bertambah atau berkurang (Dietrich, 1953:75).
pergantian suasana yang merubah unit dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada perubahan dari unit 21 ke unit 22 (babak I, adegan II) sebagai berikut:
(17)
Babak I, Adegan II, Unit 21:
TAMU I : Kami gembira, dapat datang ke mari mengabarkan.
SUAMI : O, kami juga gembira penguburannya sudah dengan sebaik-baiknya
TAMU II : Hari itu Minggu, Chairul adalah orang yang sangat kami butuhkan
Ya, ya!
SUAMI : Kami baru beberapa bulan bekerja sama, tapi rasanya sudah lama sekali, karena
ada kecocokan.
TAMU I : Ya, ya.
TAMU II : Memang.
SUAMI : Ia selalu menutupi kehidupan pribadinya, bahkan sampai pondokannya tidak kami
ketahui, setelah semalam suntuk mencari baru ketemu.

Babak I, Adegan II, Unit 22:
TAMU I : Anehnya lagi, beberapa hari setelah dia meninggal, seseorang perempuan yang
tinggal di rumah sebelahnya mati menggantung diri.
TAMU II : Saya kira baiknya dijelaskan kepada bapak ini bagaimana keadaannya pada saat-
saat terakhir, soal perempuan itu.
TAMU I : Ya, tapi kau ingat, maaf
(18)
SUAMI : Silahkan!
(kedua tamu berbicara satu sama lain, agak rahasia)
Paparan dialog diatas menunjukkan suasana yang santai ketika Suami Istri bercakap-cakap dengan Tamu yang baru datang (unit 21), suasana tersebut tiba-tiba berubah agak tegang ketika Tamu hendak bercerita tentang perempuan gantung diri (unit 22). Disini perubahan suasana diiringi oleh perubahan pola motivasional yang membuat terbentuknya unit baru.

2.3.2.3 Pergantian Topik
Pergantian tema/topik, kadang segala pola motivasional bisa berubah dengan pengenalan topik baru dalam percakapan. Misalnya dalam beberapa karakter yang dicurigai ada pembunuh sedang bicara ramah tamah tak berketentuan, tiba-tiba salah satu karakter membicarakan tentang pembunuh, maka tema akan berakhir dan satu unit telah dimulai. Yang harus diperhatikan adalah unit motivasional baru tidak selalu dimulai dengan pergantian topik pembicaraan. Topik baru harus bisa merubah kekuatan motivasional (Dietrich, 1953:76).
Contoh pergantian topik yang merubah unit dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada perubahan dari unit 29 ke unit 31 (babak I, adegan II) sebagai berikut:
Babak I, Adegan II, Unit 29:
TAMU : Kami semua merasa kehilangan.
SUAMI : O ya, memang.
TAMU : Bakatnya besar sekali, semua orang kagum karena dia tetap diam-diam dan rendah
hati.
(19)
SUAMI : Ya, saya maklum.
TAMU II : Kami sedang merencanakan memberikan sesuatu yang khusus buatnya, karena ia
kelihatan serius
. SUAMI : Ya. Saya kira itu tepat untuk dia.
TAMU I : Kami akan mencoba.
SUAMI : O, itu baik sekali.
TAMU II : Banyak pikiran-pikirannya yang cemerlang.
SUAMI : O, ya?

Babak I, Adegan II, Unit 30:
TAMU : Apakah kawan-kawannya ada di sini?

Babak I, Adegan II, Unit 31:
SUAMI : Begini saudara. Kami sudah menganggapnya anak sendiri. Dia memang cerdas dan
berbakat. Bapak sampai heran dalam umurnya yang sekian dahulu waktu masih di sini
ia sudah terlalu serius. Kadang-kadang bapak khawatir melihat anak-anak yang terlalu
serius kurang menghiraukan dia sendiri.

(20)
Paparan dialog diatas menunjukkan Suami tidak bisa bicara banyak ketika bercakap-cakap dengan Tamu I & Tamu II karena Suami menutupi kalau dirinya sebenarnya tidak kenal Chairul Umam (unit 29), pola motivasional tersebut berubah ketika Tamu II bertanya apakah kawan-kawan Chairul Umam ada di rumah indekosan milik Suami (unit 30), setelah unit tersebut Suami terpaksa mengarang cerita seolah-olah dirinya kenal dekat dengan Chairul Umam (unit 31). Disini perubahan topik diiringi oleh perubahan pola motivasional yang membuat terbentuknya unit baru.
Pembagian unit motivasional tersebut selaras dengan pembagian bahan-bahan penulisan naskah drama yang telah disebutkan sebelumnya yaitu tokoh, situasi (mood), dan tema/topik. Tiga bahan ini menentukan dalam pergantian setiap unit dinamis dalam adegan. Perubahan pola motivasional keseluruhan di tiap unit adalah kesatuan interaksi antara tokoh, situasi dan tema yang memberikan petunjuk pada sutradara. Karena unit motivasional adalah unit struktural penulis naskah, sutradara harus mengetahui maksud penulis dengan menelusuri urutan unit. Sutradara harus sanggup memperkenalkan unit motivasional yang bisa menentukan hubungan antara tiap-tiap unit dengan permainan secara keseluruhan.

2.3.3 Jenis-jenis Unit Motivasional
2.3.3.1 Unit Cerita
Unit cerita, jenis yang sangat umum pada unit bercerita adalah penjelasan sebagai pengantar yang biasanya ditemukan pada bagian awal permainan. Tujuan dari unit jenis ini adalah untuk memberikan informasi menarik sebagai pengantar action, tempat, waktu, dan hubungan antartokoh. Biasanya unit cerita juga bisa mempercepat plot, yang bisa ditemukan dalam permainan (Dietrich, 1953:77).
Contoh unit cerita dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada babak I, adegan I, unit 16 dan unit 17 sebagai berikut:
(21)

Babak I, Adegan I, Unit 16:
SUAMI : Aneh, belum juga.
ISTRI : Biar. Datang terima. Tidak, ya, barangkali ditemukan keluarganya yang betul.
SUAMI : Kapan surat ini?
ISTRI : Dua hari.
SUAMI : Kalau begitu mereka pasti.
ISTRI : Pasti?
SUAMI : Ya!
ISTRI : Datang ya kita terima.

Babak I, Adegan I, Unit 17:
SUAMI : Soalnya kalau tidak pasti, pekerjaan kita?
ISTRI : Pekerjaan apa?
SUAMI : ensio? Harus ngambil ension?
ISTRI : Pekerjaanku?
SUAMI : Kau apa?
ISTRI : Kamar-kamar? Bulan ini anak-anak balik, lupa?
(22)
Paparan dialog diatas adalah jenis unit cerita yang menceritakan tentang Suami Istri sedang menunggu tokoh Tamu yang sudah disebutkan kedatangannya dalam surat yang mereka terima (unit 16), unit selanjutnya menceritakan tentang Suami seorang pensiunan dan Istri yang hidup dari uang indekosan (unit 17).

2.3.3.2 Unit Tokoh
Meskipun seringkali karakterisasi terhadap tokoh/karakter sudah dihadirkan di hampir setiap awal adegan, namun terdapat unit yang menekankan terutama pada pembangunan dan penguatan tokoh/karakter (Dietrich, 1953:77).
Contoh unit tokoh dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada babak III, adegan II, unit 26 sebagai berikut:
Babak III, Adegan II, Unit 26:
(Cokro yang tak pernah kelihatan itu sekarang membawa serbet, kebut, sapu dan sebagainya alat-alat untuk membersihkan. Ia melemparkan itu ke tengah ruangan satu persatu. Kemudian ia muncul. Cokro seorang perempuan yang tua juga. Menderita tapi keras kepala. Tubuhnya masih gesit karena setiap hari bekerja berat. Ia memperhatikan batu marmar dan peti mati itu dengan mengejek tubuhnya di peti itu sehingga tak kelihatan. Hanya suaranya saja). Tak peduli sakit. Kerja-kerja ini kurang beres, itu kurang begitu. Maunya orang lain supaya mati. Hhhhh! Lebih baik mati daripada begini. Aku mau pulang saja kalau begini. Biar tahu rasa dia. Siapa kuat ngurus orang cerewet begitu! Aku (tak jelas)
COKRO : (ia ngelap peti mati). Hhhh! Hhhh! Dibersihkan tiap hari barangnya, rumahnya,
masih saja kurang. Ngomel-ngomel saban hari. Bertengkar dari pagi buta sampai ke
tempat tidur, tidak habis-habisnya, sampai lecet kuping ini dengar. Hhhh! Aneh-aneh
saja gagasannya. Sekarang mau begini, besok begini, sebentar lagi begini, sudah ini
(23)
begini, ini itu, ini itu. Anu-anu-anu-anu-kurang anu kurang anu. Terlalu anu. Semua
serba salah. Hhhh! Lecet, lecet kuping ini dengar. Aneh-aneh saja gagasannya. Orang
normal mana ada punya peti mati di rumah. Belum mati sudah bikin kuburan. Semua
tetangga cekakak-cekikik dengar. Untungnya Ibrahim dapat duit borongan, langsung
menikahkan cucunya. Anaknya atau cucunya. Hhhh! Untungnya Tobing. Sudah
mencari duit sekarang bakal dapat rumah. Aku dapat apa yang jujur bodo diperas tiap
hari. Tanah kuburan saja tidak mau dibelikan. Apalagi mau dikasih peti mati, rumah
Sawahnya dulu-dulu sudah dijual takut aku nagih janji! Hhhh! (ia membuka tutup peti
mati dan masuk kedalamnya membersihkan) diladeni baik-baik, dihormati, masih saja
ini-itu ini-itu. Anu-anu-anu. Semuanya salah. Semuanya dia yang benar! Sudah tua
bangka, masih saja kenes. Dua-duanya. Yang laki baikan sedikit! Hhhhhhh! (ia
merebahkan tubuhnya di peti itu sehingga tak kelihatan. Hanya suaranya saja). Tak
peduli sakit. Kerja-kerja ini kurang beres, itu kurang begitu. Maunya orang lain supaya
mati. Hhhhh! Lebih baik mati daripada begini. Aku mau pulang saja kalau begini. Biar
tahu rasa dia. Siapa kuat ngurus orang cerewet begitu! Aku (tak jelas)
(Cokro menangis di peti mati itu. Sambil bicara tak jelas)

Paparan monolog diatas adalah jenis unit tokoh yang menggambarkan tentang tokoh Cokro seorang perempuan tua, tubuhnya masih gesit karena setiap hari bekerja berat membantu Suami Istri dan menderita karena perlakuan mereka. Cokro memiliki sifat yang keras kepala seperti tampak ketika dia berbicara dengan dirinya sendiri.

(24)
2.3.3.3 Unit Konflik
Unit konflik, unit konflik tidak selalu berupa pertentangan atau pertempuran fisik antartokoh, unit konflik bisa berupa pertempuran seseorang dengan dirinya sendiri, dengan ide, atau dengan lingkungannya (Dietrich, 1953:76).
Contoh unit konflik (eksternal) dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada babak III, adegan III, unit 40 sebagai berikut:

Babak III, Adegan III, Unit 40:
SUAMI : Apa?
ISTRI : Apa!
SUAMI : Laki Cokro? Hmm!
ISTRI : Laki Cokro? Hm! Ya!
SUAMI : Hhhh! Sejak kapan kau curiga!
ISTRI : Sejak kapan kau curiga!
SUAMI : Hhhh! Suami Cokro! Cccchhh! (meludah)
ISTRI : Hhhh! Suami Cokro Ccch!
SUAMI : Cokro!
ISTRI: Cokro!
SUAMI : Kalau aku laki Cokro kuberi dia sawah bukan peti besi kosong!
(25)
ISTRI : Kalau laki Cokro kuberi dia sawah bukan peti besi kosong!
SUAMI : Peti besi kosong, kau sudah cemburu!
ISTRI : Aku tidak cemburu!
SUAMI : Apa?
ISTRI : Apa!
SUAMI : Kepala batu!

Paparan dialog diatas menunjukkan bentuk konflik yang dialami Suami Istri berupa pertengkaran antartokoh disebabkan karena istri cemburu pada Cokro.
Contoh unit konflik (internal) dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada babak I, adegan IV, unit 76 sebagai berikut:
Babak I, Adegan IV, Unit 76:
ISTRI : Semalam kupikir pak, berat tanggungannya kalau kita uang itu. Kita tidak tahu siapa
Chairul Umam. Bagaimana kalau belakangan diketahui keluarganya yang benar?
Buruh uang, tapi
SUAMI : Ya, ya. Aku juga begitu. Itu sebab kupikir dikembalikan. Tapi rela tidak?
ISTRI : Yaaah. Menjaga nama baik kita.
SUAMI : (berpikir) Yahhh!
ISTRI : (mengeluarkan dari lepitan bajunya segenggam uang dan meletakkan di atas meja) Ini
semua simpanan kita, sudah kuhitung tadi, cukup.
(26)
SUAMI : (memperhatikan uang itu) Sudah kau niatkan semalam?
ISTRI : (mengalihkan pembicaraan dari uang itu, tak menjawab).
(keduanya berpikir)
Paparan dialog diatas menunjukkan bentuk konflik yang dialami Suami Istri tidak berupa pertengkaran namun konflik batin tokoh ketika memutuskan mengambil uang tabungan mereka untuk mengganti uang Chairul Umam yang ternyata kurang.

2.3.3.4 Unit Mood
Seringkali unit motivasional tidak jelas tujuannya dalam pembentukan suasana dan peristiwa-peristiwa yang menyentuh gejala emosi penonton. Unit mood atau efek emosional tidak melukiskan karakter, bercerita, atau menaikkan konflik, penulis memasukkan unit ini untuk menaikkan efek dramatik saja (Dietrich, 1953:78).

Contoh unit yang menaikkan mood dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada babak I, adegan IV, unit 76 sebagai berikut:
Babak I, Adegan IV, Unit 76:
SUAMI : ni kok ada surat belum dibuka? Kepada yang terhormat saudara.
Dari, dari siapa ini, aku tak kenal orang ini. (membuka). Kalau
saudara tak meneruskan surat ini, seorang sahabat yang dicintai
akan meninggal karena kecelakaan, akan ada bencana hebat di
Jawa Timur, Presiden akan terbunuh ini orang gila!
(27)
Paparan dialog diatas menjadi unit yang sangat kuat untuk menaikkan ketegangan, di tengah-tengah kebingungan Suami Istri ketika membongkar surat-surat mencari petunjuk mengenai Chairul Umam.
Contoh unit yang menurunkan mood dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya terdapat pada babak I, adegan III, unit 61 sebagai berikut:
Babak I, Adegan III, Unit 61:
ISTRI : Siapa yang mendongeng sampai keluar telek mata, seperti ketoprak
. Siapa yang mengaku kenal Chairul, anakkah, orang baikkah, pintar otaknyakah, berbakatkah, selalu
berbicara sopanlah, sampai-sampai ha-ha-ha (ketawa terbahak-bahak)
SUAMI : (ikut geli mengingat tingkah lakunya di depan tamu) habis-habis kukira kau benar-benar kenal dia ..
ISTRI : Sampai-sampai, radio transistor hadiah lotre kampung itu, dikatakan hadiah. Sampai menangis ha-ha-
ha! (ketawa cekakakan)
SUAMI : Habis diam saja. Tak tahu cerita apa ha-ha-ha (ikut tertawa cekakan)
Paparan dialog diatas menjadi unit yang menurunkan ketegangan setelah Suami Istri bertengkar masalah mengembalikan uang Chairul Umam yang mereka terima dari tamu.
Pembagian jenis unit tersebut sangat bergantung pada struktur permainan, seringkali ditemui satu unit motivasional yang menyediakan lebih dari satu tujuan. Meskipun unit motivasional berdiri sendiri, unit juga dipengaruhi oleh unit yang hadir sebelumnya atau sesudahnya, sutradara harus mengkaji hubungan antarunit. Menafsirkan satu unit ias mempengaruhi makna keseluruhan permainan, jika sejak awal unit motivasional ditafsirkan dengan cara yang jelas, hasil dari tafsiran ini akan mempengaruhi permainan secara keseluruhan.
(28)

BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan
Drama sebagai karya sastra adalah suatu karya yang terjalin bersama unsur-unsurnya. Unsur-unsur tersebut saling menjalin dan saling mengait secara bersama-sama membentuk totalitas drama secara utuh. Salah satu unsur drama di dalamnya adalah alur, alur merupakan urutan konflik yang terjalin dari rangkaian peristiwa dan kemudian tersusun sebuah alur.
Dalam penelitian ini pendekatan yang dimaksud adalah suatu cara yang digunakan untuk memahami dan menangkap drama sebagai karya sastra. Pedekatan yang digunakan adalah pendekatan yang bersifat intertekstual karena dalam penelitian ini objek yang digunakan berupa naskah drama. Pendekatan intertekstual dalam penelitian ini digunakan untuk memahami naskah drama yang memperlihatkan sejauh mana seorang pengarang mempergunakan pola-pola bahasa dan pemikiran guna memberi bentuk kepada suatu tujuan atau visi tertentu (Luxemburg, 1989:60).
Naskah drama sebagai karya sastra di dalam penelitian ini dipandang sebagai dunia otonom yang mendapatkan perannya dalam jaringan perhubungan antara penulis naskah (teks) dan pembaca, serta faktor-faktor relevan yang mengikat hubungan tersebut. Sebagai sebuah dunia otonom, naskah drama merupakan sebuah sistem yang terbangun atas jalinan unsur-unsurnya. Secara internal unsur-unsur itu saling mengikat, berjalan saling menunjang keberadaan masing-masing serta secara bersama-sama unsur-unsur tersebut membentuk totalitas naskah drama secara utuh. Dengan demikian pembahasan tentang konflik dalam naskah drama yang pembahasannya difokuskan pada setiap konflik yang membentuk alur naskah drama juga tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap totalitas unsur pembangunnya, karena konflik merupakan bagian integral dari keseluruhan naskah, maka konflik harus dipahami melalui unit-unit motivasional yang mendasarinya.
(29)
3.2 Metode Penelitian
Metode adalah cara yang digunakan untuk memahami sebuah objek sebagai bahan ilmu yang bersangkutan. Metode penelitian merupakan cara utama yang digunakan peneliti untuk mencapai tujuan menentukan jawaban atas masalah yang diajukan. Menurut Nasir (1988:51) metode penelitian membantu peneliti tentang urut-urutan bagaimana penelitian dilakukan.
Penggunaan metode dalam penelitian ini bertolak dengan pendekatan yang telah dijelaskan sebelumnya. Drama sebagai karya sastra pada prinsipnya bertujuan untuk dipentaskan, naskah drama yang kemudian akan diadaptasi oleh seorang sutradara dan menjadi karya pentas dalam sebuah panggung di hadapan penonton. Dalam drama tersebut akan terlihat permainan para aktor atau tokoh yang melakukan adegan dramatik.
Peneliti akan meneliti unit motivasional yang terdapat dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya untuk mengetahui bobot suatu naskah bila ditinjau dari konfliknya. Untuk itu penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif yaitu suatu cara yang digunakan untuk meneliti kajian terhadap karya sastra yang hasilnya berupa deskripsi atau paparan.
Metode kualitatif dalam penelitian ini adalah metode yang digunakan untuk menentukan unit motivasional dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya. Unit motivasional tersebut termuat dalam paparan bahasa yang berupa dialog-dialog yang memuat pesan, ucapan, pikiran tokoh, respon terhadap tokoh, konflik, tema, suasana, mood (gejala emosional).

3.3 Data dan Sumber Data
3.3.1 Data
Data dapat diartikan sebagai bahan mentah yang didapatkan peneliti dari penelitiannya, bisa berupa fakta maupun keterangan yang dapat digunakan sebagai dasar analisis. Data dapat berfungsi sebagai bukti dan petunjuk tentang adanya sesuatu. Dalam penelitian ini data yang
(30)
digunakan adalah berupa dialog-dialog sebagai unit motivasional pada setiap satuan peristiwa dalam adegan dan masing-masing babak dalam naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya.
Contoh data dalam penelitian Konflik dalam Naskah Drama Dag Dig Dug Karya Putu Wijaya adalah sebagai berikut:
Babak I, Adegan I, Unit 1:
SUAMI : Siapa?
ISTRI: Lupa lagi?
SUAMI : Tadi malam hapal. Siapa?
ISTRI: Ingat-ingat dulu!
SUAMI : Lupa, bagaimana ingat?
ISTRI: Coba, coba! Nanti diberi tahu lupa lagi. Jangan biasakan otak manja.
SUAMI : Chai chai chairul ka, ka ah sedikit lagi (berusaha mengingat-ingat)
(tak sabar) Kairul Umam!
ISTRI: Ah? Kairul umam? Ka? Bukan Cha? Kok lain?
SUAMI : Kairul Umam! Kairul Umam! Kairul Umam! Ingat baik-baik!
ISTRI: Semalam lain
SUAMI : Kok ngotot!
ISTRI: Semalam enak diucapkan, cha, cha begitu. Sekarang kok, Ka, Ka siapa?
SUAMI : KAIRUL UMAM!
ISTRI: Kok Kairul, Cha!
SUAMI : Chairul Umam!
ISTRI: Semalam rasanya. Jangan-jangan keliru. Coba lihat surat lagi.
(31)
SUAMI : Kok ngotot. Ni lihat (menyerahkan surat)

3.3.2 Sumber Data
Sumber data adalah sesuatu yang menjadi sumber untuk memperoleh sebuah data. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan sumber data berupa naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya pada bagian-bagian khusus yang memuat unit-unit konflik dan unit-unit pendukung konflik.

3.4 Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul dan pengolah data secara penuh. Instrumen lain berupa tabel unit-unit motivasional dan grafik tensi permainan berfungsi sebagai instrumen pendukung yang digunakan peneliti untuk menafsirkan dan menggali konflik.
Peneliti sebagai instrumen mengadakan perencanaan, pelaksana pengumpulan data, analisis, dan penafsiran data (Moleong, 1989:131). Peran peneliti sebagai human instrument (manusia sebagai instrumen) maksudnya peneliti mengadakan pengamatan secara mendalam dengan objek penelitian yaitu naskah drama.

3.5 Teknik Penentuan Data
Drama sebagai karya sastra memiliki kekuatan di dalam unsur dramatiknya yang terdapat dalam paparan dialog berupa konflik-konfliknya yang muncul dalam naskah drama. Dalam pementasan, dialog-dialog tersebut akan diucapkan oleh para aktor berupa lakuan yang selanjutnya akan membentuk satu kesatuan peristiwa yang terjalin menjadi cerita yang utuh.
(32)
Dalam penelitian ini teknik penentuan data yang digunakan adalah berupa teknik observasi atau pengamatan, dalam rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, dan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan atau studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan menilai. Dalam melakukan pengamatan, peneliti mengamati gejala-gejala dramatik dalam kategori yang tepat, peneliti mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu berupa tabel dan grafik. Teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini lebih difokuskan kepada teknik observasi deskriptif. Teknik observasi deskriptif adalah teknik yang digunakan oleh peneliti dalam pemahaman naskah yang kemudian menentukan pokok atau inti masalah berupa dialog dalam setiap unit motivasional yang memuat pesan, ucapan, pikiran tokoh, respon terhadap tokoh, konflik, tema, suasana, mood (gejala emosional).
Cara memperoleh informasi melalui teknik observasi dapat digunakan dengan cara sebagai berikut: 1) membaca berulang-ulang naskah drama Dag Dig Dug karya Putu Wijaya, 2) memberi tanda dalam setiap pergantian adegan, 3) memberi nomor pada setiap dialog, 4) memberi tanda yang menunjukkan setiap pergantian unit motivasional pada dialog-dialog dalam naskah, 5) mengidentifikasi unsur-unsur pada setiap unit yaitu: tokoh, jenis unit, action, fungsi unit, konflik, mood, perubahan unit 6) semua data dimasukkan dalam tabel yang sudah disiapkan sesuai dengan klasifikasinya, 7) mencari hubungan antarunit motivasional secara keseluruhan dan menandai nomor dialognya dalam tabel.

3.6 Teknik Analisis Data
Berdasarkan paparan sebelumnya analisis data yang digunakan adalah analisis unit motivasional. Analisis unit motivasional adalah teknik yang digunakan peneliti untuk membagi sebuah naskah menjadi unit-unit terkecil berdasarkan pergantian tokoh, pergantian suasana, dan pergantian topik/tema untuk mengetahui gejala dramatik yang terdapat dalam naskah drama tersebut. Tidak semua unit memuat konflik yang sama sehingga setiap unit berbeda karena unsur
(33)
penggeraknya berbeda dan kedudukannya pun berbeda.
Analisis unit motivasional dalam penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian, menggunakan format tabel sebagai berikut:

Satuan Peristiwa No.
Unit
No. Dialog Tokoh Action Perubahan Unit Jenis Unit Fungsi Unit Mood Konflik

3.7 Prosedur penelitian
Untuk mempermudah dalam penelitian, maka peneliti membagi cara kerja menjadi tiga tahap yaitu:
a. Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
1. memilih masalah dan judul penelitian,
2. konsultasi masalah dan judul penelitian,
3. studi pustaka.
b. Tahap Perencanaan
(34)
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
1. mengumpulkan data berdasarkan pembagian jenis data,
2. mengolah dan menganalisis data,
3. menyeleksi dan memasukkan data yang terkumpul dalam tabel,
4. menafsirkan dan mendeskripsikan data berdasarkan kerangka teori,
5. menarik kesimpulan.

c. Tahap Penyelesaian
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi:
1. menyusun konsep laporan,
2. merevisi konsep laporan,
3. menggandakan laporan.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Imran (Ed.). 1985. Memahami Drama Putu Wijaya: Aduh. Jakarta:Pusat Pengembangan Bahasa Dekdipbud
Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: YA3 bekerjasama dengan CV. Sinar Baru Bandung
Atmaja, Jiwa. 1993. Novel Eksperimental Putu Wijaya. Bandung: Angkasa
Dietrich, E. John. 1953. Play Direction. Amerika: Englewood Cliff NJ.
Gallaway, Marian. 1953. The Director in the Theatre. Englewood Cliff NJ.
Ghazali, A. Syukur. 2001. Mempersiapkan Pementasan Drama: Analisis Naskah Drama. Malang: Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra
Harymawan, RMA. 1998. Dramaturgi. Bandung: CV Rosda
Kresna, Sigit B. (Ed.). 2001. Mengenal Lebih Dekat: Putu Wijaya Sang Teroris Mental dan Pertanggungjawaban Proses Kreatifnya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Luxemburg, Van J. 1985. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia
Mark, Milton. 1985. The Enjoyment of Drama, Terjemaham Abd. Syukur G. Malang: Pelaksana Kegiatan Penulisan Buku/Diktat Kuliah Sub Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Proyek Peningkatan/Pengembangan perguruan Tinggi IKIP Malang
Maryaeni, 1992. Teori Drama. Malang: Proyek OPF IKIP Malang
Moleong, Lexy J. Dr. M.A. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Semi, M. Atar, Prof. Drs., 1993. Metodologi Penelitian Sastra. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung
Sitorus, Eka D.. 2002. The Art of Acting; Seni Peran untuk Teater, Film & TV. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tambajong, Japi. 1981. Dasar-dasar Dramaturgi. Bandung: CV Pustaka Prima
Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi,Tesis, Disertasi, Artikel, Makalah, Laporan Penelitian, Edisi Keempat. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang.
(36)

Waluyo, Herman J. Prof. Dr. 2003. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia
Wellek, Waren. 1990. Teori Sastra. Bandung: Angkasa
Wijaya, Putu. 1994. Dag Dig Dug (Sandiwara Tiga Babak). Jakarta: Balai Pustaka
Wijaya, Putu. 1999. Bor (Esai-esai Budaya). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya
Wijaya, Putu. 1999. Uap. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya
Wijaya, Putu. 2004. Bali. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

(37)

Ajaran dalam serat wulang darma wiyata dan relevansinya dalam kehidupan sekarang (suatu tinjauan etika moral)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bangsa Indonesia dikenal mempunyai peradaban yang cukup tinggi, terbukti dengan kekayaan dan keanekaragaman khasanah budaya. Dalam waktu yang cukup lama, berkembang dan terpelihara pada setiap generasi hingga saat ini atau bahkan mungkin sampai waktu yang tidak dibatasi. Rekaman budaya Indonesia dapat dilihat dari berbagai peninggalannya, baik yang berupa bangunan fisik (candi, bangunan kuno, prasasti), karya seni (naskah), maupun norma-norma konvensional yang hidup di masyarakat. Semua itu menunjukkan identitas dan ciri

khas kepribadian bangsa Indonesia yang bernilai luhur.

Dari berbagai macam peninggalan tersebut, naskahlah yang merupakan wacana terlengkap dan memuat hampir seluruh segi kehidupan serta mencerminkan situasi sosial budaya pada saat naskah diciptakan. Di dalamnya terkandung informasi yang sangat dibutuhkan di kehidupan sekarang dan digunakan sebagai sarana refleksi masa mendatang.

Naskah adalah salah satu peninggalan budaya nenek moyang yang menyimpan berbagai segi kehidupan. Menurut Siti Baroroh Baried, dkk. (1985:54) naskah adalah semua bahan tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran, perasaan, hasil budaya masa lampau.

Naskah mencakup banyak hal, antara lain: naskah-naskah nusantara mengemban isi yang sangat kaya. Kekayaan itu ditunjukkan oleh aneka aspek kehidupan yang dikemukakan, misalnya masalah politik, sosial, ekonomi, agama, kebudayaan, bahasa, dan sastra. Apabila dilihat dari sifat pengungkapannya dapat dikatakan bahwa kebanyakan isinya mengacu pada sifat-sifat historis, didaktis, dan religius (Siti Baroroh Baried, dkk. 1985:4).

Naskah memuat banyak segi kehidupan, nilai dan manfaat naskah juga sangat menguntungkan bagi masyarakat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali nilai budaya lama yang telah berkembang dan terpelihara di masa lalu. Nilai-nilai strategis tulisan lama atau kesusastraan lama dapat dijadikan sarana menjembatani informasi ide, budaya dan nilai peradaban lainnya dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya(Urip Triyono dalam Mulyanto, 2000:3).

Dengan banyaknya warisan budaya bangsa, naskah merupakan dokumen yang paling

menarik dibandingkan dengan puing-puing bangunan peninggalan sejarah dan warisan budaya lainnya.

Naskah banyak bermanfaat untuk mengungkapkan kejadiaan-kejadian penting yang terjadi pada masyarakat lampau sebagai pelaku-pelaku sejarah, mengetahui sikap, alam pikiran, dan perasaan masyarakat lampau. Hal ini dapat membantu sumber-sumber sejarah budaya, pembanding perkembangan bahasa, teknologi, agama, sifat-sifat asli masyarakat baik sebelum atau sesudah adanya pengaruh dari luar. Kebanyakan naskah mengandung informasi yang berkaitan

dengan berbagai hal seperti hukum, adat istiadat, filsafat, ekonomi, moral, obatobatan,

kehidupan beragama, kehidupan sosial dan lain sebagainya.

Menurut Jauss, karya sastra lama merupakan produk masa lampau yang memiliki relevansi dengan masa sekarang dalam arti ada nilai-nilai tertentu untuk orang yang membacanya dan sebuah karya sastra akan lebih dipahami secara utuh jika pemahaman itu dilandasi pada penyatuan pengalaman masa lampau (diakronis) dan masa kini (sinkronis). Melalui pemahaman sinkronis dan diakronis itu makna sebuah karya sastra dapat diwujudkan secara koheren (Jauss dalam Yapi Taum, 1997:74).

Latar belakang munculnya sejarah sastra adalah pendidikan yang menghasilkan suatu gambaran dan susunan tentang perkembangan sastra sejak awal timbulnya di masa dulu sampai hidupnya di masa sekarang (Sundari, 1998: 1).

Sejarah sastra akan dapat diketahui dan dibandingkan karya-karya sastra sejak keberadaannya sampai pada perkembangan yang terakhir. Pembandingan tersebut dapat mencakup aspek ciri, idealisme, aliran, gejala yang ada, pengaruh yang melatarbelakangi, gaya, bentuk pengungkapan, dan sebagainya. Dengan demikian, akan lebih memudahkan seseorang yang akan melakukan penganalisisan terhadap karya sastra (Fananie, 2000:19).

Pengkajian terhadap naskah lama mempunyai nilai yang amat penting, karena naskah merupakan dokumen peningggalan yang dapat memberikan gambaran mengenai peradaban dan sejarah perkembangan masyarakat. Di dalam naskah terdapat unsur sastra. Kehadiran sastra di tengah peradaban manusia tidak dapat ditolak, bahkan kehadiran tersebut diterima seba-gai salah satu realitas sosial budaya. Sastra sampai saat ini dinilai sebagai karya seni yang memiliki

budi, imajinasi, dan emosi, serta dianggap sebagai suatu karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual di samping konsumsi emosi. Sastra terlahir sebagai akibat dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan kesejatian dirinya, realitas masyarakat yang menjadi bagian dari keberadaannya yang berlangsung sepanjang hari dan sepanjang jaman, sehingga ia mampu dinikmati dan memberi kepuasan bagi khalayak pembaca (Semi, 1993:1).

Sastra, jika diartikan secara etimologis, yaitu dari bahasa Sansekerta, berasal dari kata sas dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, member petunjuk atau instruksi. Akhiran tra biasanya menunjukkan alat, sarana, maka sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran (Teeuw, 1984: 23). Sastra di negera Eropa secara etimologis berasal dari bahasa Latin; litterature yang mengandung makna tata bahasa dan puisi. Namun kenyataannya, dalam pengertian yang dikenal saat ini kata litterature ternyata mengacu

pada makna segala sesuatu yang tertulis (Fananie, 2000: 4).

Jan van Luxemburg menyatakan bahwa sastra (litterature) dengan pengertiannya sekarang, baru muncul pada abad ke-18. Namun, sastra sesungguhnya berakar dari masa pra sejarah dalam wujud sastra lisan dan bentuk-bentuk mitos (Luxemburg dalam Yapi Taum, 1997: 10).

Penciptaan karya sastra dengan penurunannya melewati rentangan waktu panjang untuk sampai pada generasi berikutnya, sehingga menyebabkan kesukaran dalam mempelajarinya. Upaya mengetahui, mempelajari dan memahami naskah diperlukan pengungkapan isi naskah, baik yang tersurat dan yang tersirat.

Edwar Djamaris (1977: 21) menekankan bahwa naskah sebagai peninggalan zaman lampau, hanya akan bermanfaat jika apa yang terkandung di dalamnya dapat terungkap. Naskah sebagai warisan nenek moyang, bukanlah perhiasan yang dapat dibanggakan dan dipertontonkan saja, naskah baru berharga apabila masih dibaca dan dipahami isinya.

Naskah-naskah yang terdapat di pulau Jawa, berdasarkan isinya menurut Girardet dapat digolongkan menjadi beberapa golongan :

1. Kronik, legenda dan mite yang di dalamnya terdapat naskah-naskah, babad, pakem, panji, pustaka raja, dan silsilah.

2. Agama, filsafat dan etika di dalamnya termasuk naskah yang mengandung Hindhuisme, Kejawen, Islam, ramalan, dan sastra wulang.

3. Peristiswa keraton, hukum risalah, peraturan-peraturan.

4. Buku teks dan penuntun kamus ensiklopedi tentang linguistik, obat-obatan, pertanian, antropologi, geografi, dan perdagangan (Girardet dalam Hendrosaputro, 1996: 30).

Berdasarkan penggolongan di atas, maka Serat Wulang Darma Wiyata (SWDW) dimasukkan dalam sastra wulang. Sastra wulang berisi ajaran atau nasihat yang penting bagi kehidupan. Dikatakan ajaran atau nasihat karena dapat dilihat dari judulnya, kata darma berarti kebajikan dan wiyata berarti pelajaran, pengajaran merangkum maksud bahwa SWDW mengetengahkan pelajaran atau ajaran kebajikan (Poerwadarminto,1993: 89, 325).

SWDW merupakan karya sastra yang berbentuk tembang. SWDW saat ini tersimpan di dua tempat, (1) Perpustakaan Reksapustaka Pura Mangkunegaran Surakarta dengan nomor katalog A.83 sebagai naskah asli. (2) Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa dalam bentuk transliterasi telah dikaji dan diteliti oleh Mulyanto secara filologis yang menghasilkan deskripsi naskah, kritik teks dan terjemahan. Kandungan isi di dalamnya adalah ajaran moral tentang hak dan kewajiban timbal balik antara orang tua dan anak. Pokok-pokok ajaran SWDW dari Mulyanto adalah sebagai berikut: (1) tata krama pergaulan, (2) kewajiban orang tua untuk mendidik anak, (3) tidak putus asa mendidik anak, (4) sikap adil terhadap pendidikan anak, (5) kewajiban menuruti nasehat orang tua, (6) meninggalkan ajaran sesat orang tua, (7) larangan melupakan orang tua.

SWDW ditulis pada tahun 1790 Jawa atau tahun 1868 Masehi, dijelaskan pada awal pupuh VI Asmarandana bait 1 dan 2 sebagai berikut:

Pupuh VI Asmarandana bait 1

Asmarandana tinulis/

wus tlas ingkang carita/

bakda tinulis dinan/

Jumungah Kliwon lumakya/

wulannya Dulkangidah/

tanggalnya ping tlu likur/

taun Ej kang lumakya//

Artinya:

Asmarandana ditulis

sudah selesai ceritanya

selesai ditulis

pada Hari Jumat Kliwon

Bulan Dulkaidah

tanggal dua puluh tiga

Tahun Je

Pupuh VI Asmarandana bait 2

Angkaning warsa marngi/

swu lan pitungatusnya/

sangangdasa tang ingong/

ngt kula tanpa sirah/

mnawi datan lpat/

tang manggih ngawur-awur/

sumangga lrs lpatnya//

Artinya:

Bersamaan dengan tahun

seribu tujuh ratus

sembilan puluh menurut perhitunganku

teringat diluar kepala

kalau tidak salah

menghitungnya

terserah benar atau salahnya.

SWDW berupa tembang macapat terdiri dari enam pupuh, yaitu pupuh I Sinom 65 bait, pupuh II Dhandhanggula 36 bait, pupuh III Kinanthi 45 bait, pupuh IV Gambuh 17 bait, pupuh V Sinom 11 bait, dan pupuh VI Asmarandana 73 bait. Keseluruhannya menjadi 247 bait, 2270 baris, dan 16488 suku kata.

Pengarang dalam naskah ini tidak mencantumkan nama terangnya atau anonim. SWDW yang terdiri dari enam pupuh, terdapat hal-hal yang sangat menarik untuk dikaji secara sastrawi. Jika kajian filologi yang menitikberatkan secara khusus pada suntingan teks sekaligus menyelamatkan naskah dari kepunahan, maka sastra mempunyai perspektif tersendiri dalam memberikan penjelasan dari kandungan naskah yang penting, seperti etika, filsafat, moral, sejarah ataupun fungsi sastra dulce et utile (indah dan bermanfaat).

Kandungan SWDW adalah ajaran-ajaran moral yang mungkin masih relevan dijadikan pedoman atau setidaknya sebagai petunjuk bagi generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam kehidupan sekarang ini, sehingga perlu pengkajian lebih lanjut.

Peneliti memilih SWDW sebagai objek penelitian karena mengandung nilai yang patut digali dan dilestarikan. Penelitian mengenai etika moral memiliki tiga pertimbangan yaitu: pertama, SWDW merupakan warisan budaya bangsa berupa sastra tulis yang mengandung nilai tinggi dan berhubungan dengan aturan atau tata cara pergaulan kehidupan. Kedua, melihat secara mendalam fungsi yang dapat ditarik oleh penikmat karya sastra, yaitu berupa wacana etika moral. Ketiga, apresiasi sastra yaitu bagaimana masyarakat luas dapat mengenal kesusastraan dan usaha untuk menggelutinya secara keseluruhan.

Beberapa hal yang memperkuat adanya ajaran moral dan etika yang terdapat dalam SWDW adalah pendidikan bagi orang tua dalam mendidik keutamaan anak-anaknya dan kewajiban bagi anak patuh terhadap orang tua. Hal ini dapat dilihat dalam pupuh I Sinom bait 1, 35 dan pupuh II Dhandanggula bait 3, yaitu:

Pupuh I Sinom bait 1

Sinom kinarya mulang/

pamulang lar cilik/

supaya wruha tata/

dhngra maca lan ngaji/

yn wus kbanjur nuli/

pugal kayal budinipun/

mula dn wwulanga/

mksik cilik tmb ngakir/

pamrihipun uninga ing bcik ala//

Artinya:

Tembang Sinom dibuat

untuk pelajaran bagi anak kecil

agar mengetahui tatanan

agar dapat membaca dan mengaji

sebab jika sudah terlambat

akan menjadi keras kepala

maka ajarilah

ketika masih kecil dengan harapan di akhirnya

mengetahui kebaikan dan kejelekan

Pupuh I Sinom bait 35

Dn yn anak ala/

bapa tan wurung kacangking/

yn anak tuk nugraha/

bapa biyung milu mukti/

nadyan tan milu mukti/

andulu bungah kalangkung/

mila pada dn yitna/

mring anak ja dumh asih/

tuduhna sabarang karya utama//

Artinya:

Dan jika anak tidak baik

bapak tidak lain akan terbawa juga

jika anak mendapat rahmat

bapak ibu ikut merasakan enaknya

walaupun tidak ikut merasakan enaknya

tentu sudah sangat senang melihatnya

maka harus hati-hati

jangan hanya cinta kepada anak

tunjukkanlah semua keutamaan

Pupuh II Dhandanggula bait 3

Pmbalik anak putu mami/

dn abisa ngawula mring bapa/

turutn barang pakon/

aywa ta nyimpang tutur/

dumh bapa datan mwhi/

datan bisa gaota/

amung lnguk-lnguk/

anak putu ajanana/

aja dumh dudu kang yoga sirki/

lan bapa maratuwa//

Artinya:

Tetapi anak cucuku

agar dapat mengabdi kepada bapak

maka turutilah semua perintahnya

jangan sampai menyimpang dari nasehatnya

dan jangan karena bapak tidak memberi sesuatu

tidak bekerja

atau hanya duduk-duduk saja

maka anak cucu hormatilah ia

dan jangan karena ia bukan orang tuamu sendiri

atau mertua

Beberapa kutipan di atas hanya merupakan bagian kecil dari ajaran etika moral. Di samping itu, terdapat ajaran etika moral yang lain seperti bagaimana tingkah laku seseorang sebagai wong cilik atau orang kecil, bagaimana mengabdi pada pimpinan, bagaimana sikap bertetangga, terhadap teman, ketidakbolehan berputus asa, kewajiban orang tua mendidik anak, sikap adil terhadap pendidikan anak, keutamaan orang yang suka berprihatin atau mencegah dan mengurangi makan, minum, tidur, dan lain-lain. Keseluruhan ajaran etika moral dalam SWDW

merupakan satu kesatuan yang perlu penjabaran lebih mendalam.

Ajaran etika moral dijelaskan apa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan manusia dalam hidup bermasyarakat. Ajaran etika moral memuat pandangan-pandangan tentang nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat di antara sekelompok manusia atau masyarakat. Kalau seseorang mengerti apakah itu menjadi manusia, dia akan mengerti bagaimana harus berbuat supaya kelakuaannya dilaksanakan menurut kodratnya, derajatnya dan martabatnya. Hal ini

akan mengantarkan manusia untuk wruh ing urip (tahu akan hakekat hidupnya) dan tidak menjadi padha lan kbo (tidak sama hidupnya dengan kerbau) (Poespoprodjo, 1988:6).

Kehadiran setiap karya sastra mampu dinikmati oleh setiap pembaca, jika didasarkan kenyataan bahwa karya sastra yang lahir selalu berkembang dan perkembangannya bergantung sepenuhnya kepada pengarang (Fananie, 2000: 66).

Di balik keindahan bahasa suatu karya sastra, akan diambil pula manfaatnya yang berupa kesenangan-kesenangan tertentu. Kesenangan disini bukan hanya cerita karya sastranya saja, tetapi juga pesan yang disampaikan baik yang tersurat maupun tersirat. Dari pesan yang disampaikan itulah yang akan bermanfaat bagi pembacanya.

Ajaran moral dalam karya sastra merupakan pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada para pembaca. Karya sastra yang baik akan mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma moral. Mengingat pentingnya ajaran moral dalam karya sastra, terhadap SWDW maka pembaca diharapkan menangkap, menghayati dan mengamalkan ajaran moral yang terkandung di dalamnya, sehingga orang tersebut mempunyai tingkah laku dan

budi pekerti yang baik. Ajaran moral bertalian erat dengan perbuatan dan kelakuan yang pada hakikatnya merupakan pencerminan akhlak dan budi pekerti.

Dengan demikian, SWDW bermanfaat apabila amanat yang disampaikan dapat diungkapkan. Ajaran moral SWDW dapat dimanfaatkan sebagai pandangan, norma, ketentuan, dasar pemikiran atau tuntunan dalam memecahkan permasalahan.

Tetapi, pertanyaan yang muncul adalah relevan atau tidakkah konsep etika-moral dalam naskah ini.

Penelitian ini membatasi diri pada dua pokok kajian, yaitu (1) Persoalan ruang lingkup karya sastra SWDW yaitu struktur karya sastra SWDW yang berbentuk tembang macapat, dan (2) pendekatan etika-moral.

1.2 Perumusan Masalah

Dalam penelitian naskah SWDW, mengacu pada pembatasan masalah,maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur karya sastra SWDW yang berupa puisi Jawa yang meliputi struktur fisik dan struktur batin atau makna?

2. Ajaran etika moral apa yang terkandung dalam SWDW?

3. Bagaimana relevansi isi ajaran etika moral SWDW dengan kehidupan masa sekarang ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini akan mengupas nilai-nilai etika moral yang terkandung dalam karya sastra SWDW. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menjelaskan struktur karya sastra SWDW, yaitu struktur fisik dan struktur batin atau makna.

2. Menjelaskan nilai-nilai etika moral yang terkandung dalam SWDW.

3. Menjelaskan relevansi ajaran etika moral SWDW dengan realitas yang ada pada kehidupan masa sekarang.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Menghasilkan kajian karya sastra dengan menganalisis naskah, diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan dan penggunaan teoriteori sastra, khususnya dibidang penelitian karya sastra dalam bentuk puisi tradisional.

b. Mengembangkan penelitian sastra, khususnya penelitian yang mengambil obyek naskah-naskah lama.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian berbentuk data tulis diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi bagi pembaca dan pengembangan penelitian kesusastraan khususnya karya sastra lama yang sejenis.

BAB II

LANDASAN TEORI

Dalam sebuah penelitian ilmiah landasan teori mutlak digunakan, landasan teori merupakan salah satu pisau analisis, juga sebagai syarat dari penelitian ilmiah, yaitu dapat dipertanggungjawabkan secara objektif. Penelitian ini menggunakan beberapa landasan teori yang menjadi arahan ataupun dasar berfikir dari beberapa perumusan masalah yang telah dirumuskan. Adapun landasan teori yang mendukung permasalahan dalam naskah SWDW adalah :

2.1 Struktur Karya Sastra

Dari sejumlah pendekatan sastra yang muncul, pendekatan sastra yang mendasarkan pada struktur boleh disebut sebagai pendekatan yang paling banyak menghasilkan teori. Pendekatan struktural sendiri sebenarnya sejak jaman Yunani sudah dikenalkan oleh Aristoteles. Namun, perkembangan struktural sastra secara pesat barulah pada abad 20 (Fananie, 2000:115).

Pendekatan struktural merupakan pendekatan yang sama dengan pene-litian intrinsik karya sastra. Pendekatan tersebut lebih ditekankan pada keutuhan karya sastra sekaligus terlepas dari konteks di luar karya sastra. Penelitian struktu-ral ditempuh secara membaca dan memahami sebaik mungkin terhadap sebuah teks pada sebuah karya sastra. Penelitian struktural

membahas unsur-unsur formal dengan tujuan agar penelitian yang bersifat intrinsik tidak menyimpang. Penelitian struktural juga menjadi pintu pertama bagi penelitian sastra, dimana pengarang mempunyai tujuan secara implicit atau eskplisit dalam karya sastra tersebut. Ada-pun landasan teori structural antara lain sebagai berikut:

1. Pengertian struktur

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian struktur adalah cara sesuatu disusun atau dibangun dengan pola tertentu (KBBI, 2001:1092). Dengan pengertian ini dapat diterapkan dalam karya sastra baik berupa puisi maupun prosa. Jadi, struktur karya sastra adalah bagaimana karya sastra itu disusun dan dibangun atau unsur apa saja yang menyusun dan membangun karya sastra tersebut. Berarti struktur karya sastra dapat dijelaskan secara teoritis.

2. Pendekatan Struktur SWDW berbentuk puisi tradisional.

Tradisi berpuisi sudah merupakan tradisi kuno dalam masyarakat Jawa. Dalam masyarakat desa di Jawa terdapat tradisi mendendangkan tembang-tembang Jawa yang dikenal dengan tembang macapat. Tembang macapat didengarkan bukan hanya lagunya, namun terlebih isi puisi yang biasanya mengandung cerita atau nasehat.

SWDW adalah karya sastra berbentuk puisi tradisional menggunakan tembang macapat. Puisi adalah bentuk karya sastra paling tua. Karya-karya besar yang bersifat abadi seperti: Mahabharata, Ramayana, Wedhatama, Tripama, Babad Tanah Jawi, Bharatayudha, dan sebagainya dikarang dan ditulis dalam bentuk puisi (Waluyo, 1995:5). Puisi tidak hanya digunakan untuk penulisan karya-karya besar, namun puisi juga sangat erat kaitannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Dunia telah diperindah dengan adanya puisi.

Melalui bentuk puisi orang memilih kata dan memadatkan bahasa. Memilih kata artinya memilih kata-kata yang paling indah dan tepat mewakili maksud pengarang dan memiliki bunyi vokal atau konsonan yang sesuai dengan tuntutan estetika, sedangkan memadatkan bahasa artinya kata-kata yang diungkapkan mewakili banyak pengertian (Waluyo, 1995:2).

Waluyo (1995:3) menambahkan bentuk karya sastra puisi memang dikonsep oleh penulis atau penciptanya sebagai puisi dengan bentuk yang terungkapkan. Seorang pengarang telah mengkonsentrasikan segala kekuatan bahasa dan gagasannya untuk melahirkan puisi. Perencanaan konsep dasar penciptaan puisi sejak dalam pikirannya. Kenyataan sejarah yang melatarbelakangi proses penciptaan puisi mempunyai peranan penting dalam memberikan makna puisi. Puisi seringkali memotret jaman tertentu dan akan menjadi refleksi jaman tertentu pula.

Menghadapi sebuah puisi tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata-kata indah, namun juga merupakan kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang hendak diucapkan oleh pengarang.

Pada pokoknya puisi dibangun oleh 2 unsur pokok, yakni struktur fisik yang berupa bahasa yang digunakan. Kedua, struktur batin atau struktur makna, yakni pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh penyair. Kedua unsur itu merupakan kesatuan yang saling jalin menjalin secara fungsional.

Unsur-unsur puisi tidaklah berdiri sendiri, tetapi merupakan kesatuan dan unsur yang satu dengan unsur lain menunjukkan hubungan keterjalinan. Kedua struktur harus mempunyai kepaduan dalam mendukung totalitas puisi. Telaah ini menyangkut telaah unsur-unsur puisi dan berusaha membedah puisi mengenai unsur-unsur yang membangun. Ditelaah bagaimana struktur fisik digunakan untuk mengungkapkan struktur batin dan bagaimana struktur batin dikemukakan. Telaah yang demikian menghasilkan pembahasan secara lebih mendalam.

a. Struktur fisik

Unsur-unsur bentuk atau struktur fisik puisi dapat diuraikan dalam metode puisi, yaitu unsur estetik yang membangun luar dari puisi. Unsur-unsur itu dapat ditelaah satu persatu, tetapi tetap merupakan kesatuan yang utuh. Unsur-unsur itu adalah diksi atau pemilihan kata, kata konkret dan bahasa figuratif atau majas atau disebut juga gaya bahasa (Waluyo, 1995:71)

1. Diksi atau pemilihan kata.

Menurut Waluyo (1995:71) diksi merupakan pilihan kata yang digunakan untuk membangun sebuah puisi. Puisi yang baik dan intens akan selalu dibangun dengan diksi yang baik dan tepat. Pengarang sangat tepat dalam memilih kata-kata yang ditulis harus dipertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama, kedudukan kata itu di tengah konteks kata lainnya dan kedudukan kata dalam keseluruhan puisi itu. Oleh sebab itu, disamping memilih kata yang tepat,

pengarang juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut. Kata-kata diberi makna baru dan yang tidak bermakna diberi makna menurut kehendak pengarang.

Kata-kata dalam puisi bersifat konotatif artinya memiliki kemungkinan makna yang lebih dari satu. Kata-katanya juga dipilih yang puitis artinya mempunyai efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemilihan kata yang cermat ini, pembaca akan langsung tahu bahwa yang dihadapinya itu puisi setelah membaca kata-kata yang dibacanya kata-kata yang tepat untuk puisi.

Menurut Waluyo (1995:73-77) diksi atau pemilihan kata mencakup tiga hal pokok, yaitu:

a. Perbendaharaan kata

Perbendaharaan kata pengarang sangat penting untuk kekuatan ekspresi dan ciri khas pengarang. Pengarang memilih kata berdasarkan makna yang disampaikan dan tingkat perasaan serta suasana batinnya, juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya pengarang. Maka pengarang satu berbeda dalam memilih kata dari pengarang lainnya.

b. Urutan kata

Dalam puisi urutan kata bersifat beku, artinya tidak dapat dipindah-pindahkan tempatnya meskipun maknanya tidak berubah oleh perpindahan tempat. Cara menyusun urutan kata-kata bersifat khas karena pengarang yang satu berbeda caranya dari pengarang yang lainnya. Jika urutan kata dalam puisi diubah, maka akan terganggu keharmonisan komposisi kata-kata. Urutan kata-kata mendukung perasaan dan nada yang diinginkan pengarang. Jika urutan katanya diubah, maka perasaan dan nada yang ditimbulkan akan berubah pula.

c. Daya sugesti kata-kata

Dalam memilih kata-kata, pengarang mempertimbangkan daya sugestinya. Sugerti kata ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan pengarang. Ketepatan pilihan dan penempatannya, maka kata-kata itu seolah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah, dan sebagainya.

2. Kata konkret

Menurut Waluyo (1995:81) untuk membangkitkan daya bayang pembaca, maka kata-kata harus dikonkretkan. Maksudnya, kata-kata dapat menyaran kepada arti yang menyeluruh. Jika pengarang mahir mengkonkretkan kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar atau merasa apa yang dilukiskan oleh pengarang. Dengan demikian pembaca dapat membayangkan secara jelas peristiwa atau keadaan yang dilukiskan pengarang

3. Bahasa figuratif atau Majas (Gaya bahasa)

Menurut Waluyo (1995:83) bahasa figuratif (majas) adalah bahasa yang digunakan pengarang untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan pengarang untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang.

Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan pengarang, karena: (1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif; (2) bahasa figuratif adalah cara untuk menghasilkan imaji tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat dibaca; (3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan pengarang untuk puisinya dan menyampaikan sikap pengarang; (4) bahasa figuratif

adalah cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara menyampaikan sesuatu yang banyak dan luas dengan bahasa yang singkat (Perrine,1974:616-617 dalam Waluyo, 1995:83).

Majas (gaya bahasa) adalah bahasa kias atau gaya bahasa yang digunakan pengarang untuk memperindah dan memperkaya makna puisi yang diciptakannya (Sudiatmi dalam Warsito, 1996:14). Seorang pengarang di dalam mengungkapkan perasaaan agar lebih indah, menarik, dan menimbulkan imajinasi yang tinggi, maka akan menggunakan bahasa kias atau gaya bahasa.

Menurut Waluyo (1995:84-90), untuk memahami bahasa figuratif atau majas (gaya bahasa) harus menafsirkan kiasan dan lambang yang dibuat oleh pengarang, baik yang konvensional maupun nonkonvensional.

a) Kiasan (Gaya Bahasa)

Kiasan yang dimaksud di sini mempunyai makna lebih luas dengan gaya bahasa kiasan, kiasan mewakili apa yang secara tradisional disebut gaya bahasa secara keseluruhan. Adapun tujuan penggunaan kiasan adalah untuk menciptakan efek yang lebih kaya, lebih efektif, dan lebih sugestif dalam puisi.

Gaya bahasa yang tercakup dalam kiasan ini: (1) Metafora adalah kiasan langsung artinya benda yang kiaskan tidak disebutkan. Jadi ungkapan itu langsung berupa kiasan. Misalnya: lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam; (2) Perbandingan adalah kiasan yang tidak langsung disebut simile. Benda yang dikiaskan kedua-duanya ada bersama pengiasnya dan digunakan kata-kata; seperti, laksana, bagaikan, bak, dan sebagainya; (3) Personifikasi diartikan suatu kiasan yang menggunakan benda mati dianggap manusia atau persona. Hal ini untuk memperjelas penggambaran peristiwa dan keadaan; (4) Hiperbola diartikan kiasan yang berlebih-lebihan. Pengarang merasa perlu melebih-lebihkan hal yang dibandingkan agar mendapatkan perhatian yang lebih seksama dari pembaca; (5) Sinekdok adalah menyebutkan sebagian untuk keseluruhan disebut Part Prototo dan menyebutkan keseluruhan untuk sebagian disebut Totem Proparte; (6) Ironi.

Dalam puisi pamlet, demonstran, dan kritik sosial banyak digunakan ironi yakni kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme, yaitu penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir atau mengkritik.

b) Pelambangan

Pelambangan digunakan untuk memperjelas makna, membuat nada dan suasana sehingga menggugah hati pembaca. Macam-macam lambang ditentukan oleh keadaan atau peristiwa apa yang digunakan oleh pengarang untuk mengganti keadaan atau peristiwa itu. Adapun lambang ma-camnya antara lain: (1) Lambang warna mempunyai karakteristik watak tertentu. Secara

umum di masyarakat sering mendengar lambang warna. Misalnya bendera merah putih, diartikan berani dan suci; (2) Lambang benda digunakan untuk menggantikan sesuatu yang ingin diucapkan pengarang; (3) Lambang bunyi diciptakan pengarang untuk melam-bangkan perasaan tertentu. Perpaduan bunyi-bunyi akan menciptakan suasana khusus dalam sebuah puisi; (4) Lambang suasana dipandang lebih efektif dan konkret jika dilukiskan dalam

kalimat atau alinea.

Menurut Keraf (2000:121) terdapat gaya bahasa berdasarkan nada yaitu gaya bahasa yang didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dari rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Seringkali sugesti ini akan nyata kalau diikuti dengan sugesti suara dari pembicara, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan. Keraf membagi gaya bahasa berdasarkan nada menjadi tiga. Pertama gaya sederhana, kedua gaya mulia dan bertenaga, dan ketiga gaya menengah.

Gaya sederhana cocok untuk memberi intruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Gaya ini untuk menyampaikan fakta atau pembuktian. Kedua, gaya mulia dan bertenaga, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, biasanya digunakan untuk menggerakkan sesuatu. Pelajaran tentang kemanusiaan dan keagamaan, kesusilaaan menggunakan gaya ini. Ketiga, gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai, maka nada biasanya bersifat lemah lembut, penuh kasih saying dan mengandung humor yang sehat (Keraf, 2000:121-124).

Menghayati puisi, telaah mengenai struktur fisik yang berupa pemilihan kata atau diksi, kata konkret dan bahasa figuratif, saling berkaitan dan membentuk kesatuan. Unsur struktur fisik berkaitan dengan struktur batin atau makna puisi. Jalinan makna dalam membentuk kesatuan dan keutuhan puisi menyebabkan puisi lebih bermakna dan lengkap dari sekedar kumpulan unsur-unsur.

b. Struktur batin atau makna puisi

Ada empat unsur struktur batin atau makna puisi yaitu: tema, perasaan pengarang, nada atau sikap pengarang terhadap pembaca, dan amanat (Waluyo, 1995:106). Keempat unsur menyatu dalam wujud penyampaian bahasa pengarang.

1. Tema

Tema puisi merupakan gagasan pokok yang dikemukakan pengarang (Waluyo, 1995:106). Sementara, Zainudddin Fananie (2000:84) tema adalah ide, gagasan, pandangan hidup pengarang yang melatarbelakangi ciptaan karya sastra. Tema bisa berupa persoalan moral, etika, agama, social budaya, teknologi, tradisi yang terkait erat dengan masalah kehidupan.

Namun tema bisa juga berupa pan-dangan pengarang, ide, atau keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul.

2. Perasaan

Menurut Waluyo (1995:134) perasaan dalam puisi adalah perasaan yang disampaikan penyair melalui puisinya. Puisi mengungkapkan perasaan yang ber-aneka ragam, meliputi: perasaan senang, sedih, kecewa, terharu, benci, rindu, cin-ta, kagum, bahagia ataupun perasaan setia kawan.

3. Nada

Menurut Waluyo (1995:134) nada adalah sikap batin pengarang yang hendak diekspresikan pengarang kepada pembaca. Ada nada menasehati, men-cemooh, mengejek, berontak, iri hati, gemas, penasaran, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca dan sebagainya. Perasaan dan nada puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan perasaan terhadap pembaca-nya sehingga memberikan kesan yang lebih mendalam.

4. Amanat

Menurut Waluyo (1995:134) amanat adalah maksud yang hendak disampaikan atau pesan, himbauan, tujuan pengarang. Amanat yang hendak disampaikan oleh pengarang dapat ditelaah setelah memahami tema, perasaan dan nada puisi.

Dari beberapa pemahaman mengenai analisis struktural terhadap sebuah karya sastra yang berbentuk puisi tradisional dapat ditarik kesimpulan bahwa puisi adalah bentuk karya satra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Gambaran tentang puisi sebagai suatu struktur utuh dapat dilihat dari tembang

Jawa karena SWDW merupakan bentuk puisi tradisional dalam tembang macapat maka diperlukan pemahaman secara teoritis mengenai struktur tembang macapat.

3. Struktur tembang macapat

Macapat berasal dari kata ma + capat yang artinya membaca cepat, ada juga arti yang lain yaitu maca + pat yang artinya membaca empat empat. Tembang macapat sendiri ada bermacam jenis yaitu: Sinom, Pangkur, Asmaradana, Kinanthi, Mijil, Pocung, Maskumambang, Gambuh, Durma, dan Dhandhanggula (Subalidinata dalam Iwan Wahyudi 2002:9).

Dalam tembang macapat dikenal berbagai istilah antara lain :

Guru Gatra : jumlah baris dalam setiap bait

Pada : bait yang menyusun tembang

Guru lagu : berhentinya suara atau dong ding diakhir baris

Guru wilangan : jumlah suku kata setiap baris

Pupuh : susunan metrik dan ritme dalam tembang tertentu

Sasmita Tembang : kata yang menunjuk ciri dari suatu tembang yang telah ditetapkan.

SWDW menggunakan enam pupuh yaitu :

1) Sinom yang mempunyai aturan aturan yaitu sebagai berikut :

a. Guru lagunya: baris pertama a,baris kedua i, baris ketiga a, baris keempat i, baris kelima i, baris keenam u, baris ketujuh a, baris kedelapan i, baris kesembilan a.

b. Guru wilangan: baris pertama 8, baris kedua 8, baris ketiga 8, baris keempat 8, baris kelima 7, baris keenam 8, baris ketujuh 7, baris kedelapan 8, baris kesembilan 12.

2). Dhandhanggula yang mempunyai aturan-aturan yaitu :.

a. Guru lagunya: baris pertama i, baris kedua a, baris ketiga e, baris keempat u, baris kelima i, baris keenam a, baris ketujuh u, baris kedelapan a, baris kesembilan i, baris kesepuluh a.

b. Guru wilangan: baris pertama 10, baris kedua 10, baris ketiga 8, baris keempat 7, baris kelima 9, baris keenam 7, baris ketujuh 6, baris kedelapan 8, baris kesembilan 12, baris kesepuluh 7.

3). Kinanthi yang mempunyai aturan-aturan yaitu :

a. Guru lagunya: baris pertama u, baris kedua i, baris ketiga a, baris keempat i, baris kelima a, baris keenam i.

b. Guru wilangan: baris pertama 8, baris kedua 8, baris ketiga 8, baris keempat 8, baris ke;lima 8, baris keenam 8.

4) Gambuh yang mempunyai aturan-aturan yaitu :

a. Guru lagunya: baris pertama u, baris kedua u, baris ketiga i, baris keempat u, baris kelima o.

b. Guru wilangan: baris pertama 7, baris kedua 10, baris ketiga 12, baris keempat 8, baris kelima 8.

5). Asmarandana yang mempunyai aturan aturan yaitu

a. Guru lagu: baris pertama i, baris kedua, baris ketiga e, atau o, baris keempat a, baris kelima a, baris keenam u, baris ketujuh a.

b. Guru wilangan: baris pertama 8, baris kedua 8, baris ketiga 8, baris keempat 8, baris kelima 7, baris keenam 8, baris ketujuh 8 (Hardjowirogo.1952:9-12).

2.2 Kajian Etika Moral

1. Pengertian Moral

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, moral berarti:

a. Ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Akhlak budi pekerti, susila.

b. Ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita. Sedangkan moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun (KBBI: 2001: 592).

Secara etimologi moral berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti kebiasaan, adat (Bertens, 1997:5). Sedangkan moralitas dari kata sifat Latin moralis yang mempunyai arti suatu perbuatan dalam pengertian sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Sejarah hidup masyarakat seakan-akan terentang dalam suatu jaringan norma-norma yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan dan lain-lain. Jaringan itu seolah-olah membelenggu masyarakat, mencegah masyarakat dari bertindak sesuai dengan segala keinginan masyarakat. Mengingat masyarakat untuk melakukan sesuatu yang sebetulnya masyarakat benci. Maka masyarakat mengharapkan tunduk terhadap norma-norma itu. Bidang yang mengenai kewajiban manusia

serta tentang yang baik dan buruk itu disebut bidang moral (Magnis, 1975:13).

Menurut Imanuel Kant pengertian moralitas sebagai kesesuaian sikap dan perbuatan dengan norma atau hukum batiniah yang dipandang sebagai kewajiban. Moralitas akan tercapai bila mentaati hukum lahiriah bukan lantaran hak itu membawa akibat yang menguntungkan kita atau lantaran takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan kita sendiri menyadari bahwa hukum itu merupakan kewajiban kita (Imanuel kant dalam Lili Tjahyadi, 1991:47).

Tujuan dari ajaran moral adalah mempelajari fakta pengalaman, bahwa manusia membedakan yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk dan manusia mempunyai rasa wajib (Poespoprojo, 1988:4).

2. Pengertian etika

Kata etika dalam arti yang sebenarnya berarti filsafat mengenai bidang moral jadi etika merupakan ilmu atau refleksi sistematik mengenai pendapat-pendapat, norma-norma dan istilah-istilah moral (Suseno1993:6).

Kata etika secara etimologis berasal dari kata ethos berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan (Bertens, 1997:4)

Menurut Hasbullah Bakri (1986:71) mendefinisikan etika sebagai berikut:

Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal fikiran. Tujuan dari etika adalah mendapatkan cita yang sama bagi seluruh manusia mengenai penilaian baik dan buruk, di tempat mana saja dan kapan saja (Bakri, 1986:72)

Etika Jawa mengemukakan tuntunan-tuntunannya berdasarkan dua anggapan dasar tentang struktur realitas seluruh kehidupan manusia yang erat hubungannya satu sama lain. Pertama, kedudukan dan kegiatan setiap manusia dalam dunia telah ditentukan oleh takdir. Kedua, bahwa manusia dengan segala kehendak dan tindakannya pada hakekatnya tidak dapat mengubah perjalanan dunia seisinya yang telah ditakdirkan (Suseno, 1993:227).

Dengan beberapa pengertian maupun definisi etika moral di atas, maka dapat digarisbawahi bahwa etika maupun moral erat kaitannya dengan perilaku manusia baik secara individual maupun secara sosial. Lebih kongkretnya manusia mempunyai batasan-batasan atau kewajiban-kewajiban yang senantiasa mengikutinya dalam hal interaksi secara personal terhadap lingkungan sekitarnya.

Kajian SWDW, adalah salah satu bagian dari cara manusia (Jawa) dalam memberikan sebuah batasan atau lebih tepatnya aturan berhubungan dengan lingkungannya secara jelas. Oleh karena itu, naskah ini merupakan bentuk perwujudan dari sistem kontruksi etika moral yang dibangun secara baik dalam wujud kitab (buku) untuk diajarkan kepada anak cucu.

Berdasar pada teori-teori yang digunakan di atas, SWDW akan lebih jelas dan objektif jika dilihat atau dirinci sejauhmana struktur bangunan etika moral yang secara logis menjadi bagian (aturan) masyarakat Jawa waktu silam. Kaidah yang menentukan etika dalam masyarakat adalah menuntut agar individu dalam masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan keselarasan, atas dasar suara hati atau tanggung jawab moral dan jangan sampai membangkang karena akan membahayakan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tantangan yang cukup berat etika moral dari kandungan SWDW ketika dihadapkan dengan perjalanan waktu tiap generasi. Relevansikah etika moral dari naskah SWDW pada jaman sekarang yang notabene lebih mengutamakan kebebasan dan partisipasi (menjunjung tinggi hak asasi manusia) adalah hal yang esensial dalam penelitian ini.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian.

Pengertian yang khusus, penelitian sastra berusaha mencari pengetahuan secara teliti dan kritis terhadap masalah sastra. Kajian sastra secara objektif mempunyai disiplin ilmu yang objek maupun metodenya jelas. Karya sastra SWDW menurut jenisnya merupakan kategori jenis sastra Jawa klasik. Menurut Atar Semi (1993:18) penelitian sastra adalah usaha pencarian pengetahuan dan pemberian makna dengan hati-hati dan kritis secara terus menerus terhadap masalah

sastra.

Penelitian sastra seringkali bercorak eksplorasi dan operasi mencari teks naskah kuno dan melakukan telaah teks. Penelitian sastra harus dilakukan dengan dukungan teori dan prinsip keilmuan yang lebih mendalam. Naskah adalah karya sastra yang berwujud buku atau pustaka. Adapun jenis ini sering dikenal dengan penelitian pustaka atau library research.

3.2 Bentuk Penelitian.

Bentuk penelitian yang digunakan dalam SWDW adalah bentuk penelitian yang menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu memperoleh gambaran atau deskripsi mengenai kualitas dari obyek yang dikaji. Dalam hal ini, SWDW bentuk karya sastra puisi tradisional berbentuk tembang macapat. Menurut Winarno (dalam Srie Haryanto, 2002:25) penelitian kualitatif adalah metode yang menjabarkan apa yang menjadi masalah, menganalisis, menafsirkan data yang ada.

Karakterisasi penelitian deskriptif kualitatif adalah kata-kata dalam kalimatkalimat atau gambar-gambar yang mempunyai arti lebih dari sekedar angka-angka atau jumlah. Hasil penelitian berupa catatan-catatan yang menggambarkan situasi sebenarnya guna mendukung penyajian (Sutopo, 1988: 10).

3.3 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, (1) data yang bersumber dari naskah asli SWDW yang tersimpan di Perpustakaan Reksapustaka Pura Mangkunegan Surakarta dengan nomor katalog A. 83, (2) data yang bersumber dari hasil penelitian Mulyanto yang tersimpan di Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3.4 Data

Data dalam penelitian berbentuk data tulis dibagi menjadi dua. Pertama karya sastra SWDW yang terkandung aspek intrinsik SWDW yang meliputi struktur fisik. Terdiri dari diksi atau pilihan kata, kata konkret dan bahasa figuratif. Struktur tembang merupakan struktur penting dalam unsur intrinsic SWDW. Struktur kedua adalah struktur batin atau makna yang meliputi tema, perasaan, nada, dan amanat. Penelitian perihal etika moral menjadi kajian yang

peneliti rumuskan atau hasilkan.

Data kedua yaitu data yang berasal dari penelitian sejenis, pustaka lain dan jurnal-jurnal ilmiah khususnya yang berhubungan dengan pemerolehan data perihal etika moral.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini berbentuk buku (pustaka) karangan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik Content analysis (teknik kajian isi). Kajian isi merupakan metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah sumber data yang diteliti (Moleong, 1989:179). Teknik ini ditempuh dengan teknik simak catat, yaitu dengan cara menyimak isi secara teliti kemudian mencatat hal yang penting. Karena data dalam SWDW berbentuk tulisan, maka teknik ini adalah cara yang logis untuk mendapatkan isi kandungan naskah berdasarkan masalah penelitian.

3.6 Tahap Deskripsi Data

Tahap ini semua data yang terkumpul, diteliti, diidentifikasi dan diklasifikasikan. Dalam mengumpulkan data yang diperlukan, inventarisasi didapatkan dari transliterasi SWDW yang terdapat di Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kemudian diklasfikasikan untuk memudahkan penelitian.

3.7 Tahap Analisis Data

Tahap analisis data ini data yang terkumpul, diseleksi, dan diklasifikasikan, dilanjutkan analisis struktur karya sastra SWDW sebagai awal pembahasan. Analisis dilanjutkan dengan pendekatan etika moral terhadap SWDW.

3.8 Tahap Interpretasi.

Data-data yang telah dianalisis, kemudian ditarik pada penilaian sementara. Dalam tahap ini sudah diadakan pemahaman karya sastra dari proses analisis yang memerlukan beberapa tahapan. Dalam interpretasi data penelitian sudah menda-patkan data yang sesuai dengan apa yang menjadi sasaran penelitian seperti tema dam masalah. Interpretasi dapat juga dijelaskan sebagai kesimpulan awal atau hipotesa dari pemahaman terhadap naskah secara keseluruhan.

3.9 Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi adalah tahap akhir dari penelitian yang berupa penarikan kesimpulan akhir dari analisis data, di mana penilaian terhadap objek kajian diberikan. Dalam tahap ini, penelitian telah mempunyai rekomendasi yang dihasilkan sementara menjadi kesimpulan. Evaluasi berguna untuk mendapatkan hasil dari kesimpulan yang nantinya akan diverifikasi sebagai hasil akhir.

DAFTAR PUSTAKA

A.Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu sastra. Sebuah Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

Atar Semi. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

C.A. van Peursen,. 1988 Strategi kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Darmanto Jatman,. 1997. Psikologi Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Edwar Djamaris. 1977. Filologi dan Cara Kerja Penelitian Filologi dalam Bahasa dan Sastra. No

1 th. III. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Frans Magnis Suseno. 1993. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafati Tentang Kebijaksanaan Hidup

Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Franz von.Magnis.1975. Etika Umum: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral Yogyakarta:

Kanisius.

Gorys Keraf. 2000. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Pustaka Utama

H.B Sutopo. 1988. Pengantar Penelitian Kualitatuf: Dasar-dasar Teori dan Praktis. Surakarta:

UNS Press.

Hardjowirogo.1952. Patokaning Njekaraken. Jakarta: Balai Pustaka

Hasbullah Bakrie. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta: Widjaja.

Herman.J Waluyo. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : Erlangga

Iwan Wahyudi. 2002. Ajaran dalam Serat Wulang Sujalma; Suatu Tinjauan Moral. Surakarta:

UNS.

K. Bertens. 1997. Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Lexy Moleong. 1989. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remadja Karya

Lili Tjahyadi. 1991. Hukum Moral. Yogyakarta: Kanisius.

Mulyanto. 1999. Serat Wulang Darma Wiyata; Sebuah Tinjauan Filologis. Suarakarta: UNS

Niels Mulder. 1996. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Poerwadarminto. W.J.S. 1939. Baoesastra Jawa. Jakarta: J.B. Wolters Uitgervers Maatschappij

N.V. Groningen Batavia.

Poespoprodjo. 1988. Filsafat Moral. Bandung: Remadja Karya.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka

Siti Baroroh Baried, dkk. 1985. Pengantar Teori Filologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan

Pengembangan Bahasa.

Srie Haryanto 2001 Babad Pacinan. Suatu Tinjauan Sosiologis Sastra. Surakarta: UNS.

Sundari.1998. Sejarah Sastra Jawa. (BPK). Surakarta: UNS Press

Tim Skripsi. 1994. Pedoman Skripsi Fakultas Sastra. Surakarta: UNS Press

Waridi Hendrosaputro. 1996.. Pengantar Filologi: (BPK) Surakarta: UNS Press.

Warsito. 1996. Analisis Sosiologis Sastra dan Nilai-nilai Pendidikan Kumpulan Puisi Ballada

Orang-orang Tercinta karya W.S. Rendra. Sukoharjo: UNIVET.

Yoseph Yapi Taum. 1995. Pengantar Teori Sastra. NTT: Nusa Dua

Zainuddin Fananie. 2000. Telaah Sastra. Surakarta: UMS Press.